Tampilkan postingan dengan label Cerita Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Karya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 September 2019

Literasi Membawa Putriku Keliling Dunia dengan Gratis


Terhitung dari Januari 2018 hingga Juli 2019, putriku Muthia Fadhila Khairunnisa, yang biasa dipanggil Thia, telah mengunjungi enam negara dalam rangka mengikuti tujuh kegiatan yang berbeda untuk mewakili Indonesia. Total tujuh negara yang telah Thia kunjungi berkat LITERASI, yaitu Amerika Serikat, Philipina, Korea Selatan, Turki, Singapore, Inggris, dan Thailand. TUJUH NEGARA dalam DELAPAN KEGIATAN sebagai delegasi Indonesia, yang tentu saja mewakili Indonesia. Semuanya GRATIS, tidak berbayar karena ditanggung oleh pihak penyelenggara atau mendapat sponsor.

Menumbuhkan Naluri Kecintaan Terhadap Buku
Kesukaanku membaca sejak kecil, membuatku ingin menularkannya kepada anak-anakku kelak. Aku ingin mereka mendapatkan sensasi kegembiraan, saat tenggelam dalam buku-buku yang dibaca. Tak kalah penting, aku ingin mengajarkan akhlak dan budi pekerti melalui contoh-contoh cerita dalam aneka buku. Terbayang dalam ingatanku, aku selalu terpesona, serta jadi mengerti mana yang baik dan mana yang buruk dari karakter tokoh-tokoh cerita yang kubaca. Untuk itu, ketika hamil, aku mengoleksi banyak buku cerita anak. Setiap saat, sambil mengelus-elus perutku, aku membacakan cerita-ceritanya. Aku ingin menularkan naluri kecintaanku terhadap buku kepada calon bayiku. Terlepas nantinya saat dewasa akan menjadi apa, aku hanya ingin nantinya dia senang membaca buku dan menjadikan buku sebagai sahabat setianya.

Thia bercerita tentang buku-buku yang dibacanya saat menjadi
bintang tamu di Kabar Siang TV-One, 12 Juni 2010.

Pada 14 Januari 2001, lahirlah bayi yang kunanti. Muthia Fadhila Khairunnisa, panggilannya Thia. Sejak Thia lahir, kebersamaan kami dengan buku semakin bertambah. Buku-buku yang kukoleksi buat Thia pun makin beragam. Bahannya tidak hanya yang terbuat dari kertas, tapi juga dari plastik dan kain. Saat Thia mandi, buku-bukunya yang terbuat dari plastik ikut mandi. Saat Thia bermain, giliran buku-buku dari kain yang menemani. Sementara buku-buku berbahan kertas, kubacakan dan kuperlihatkan gambarnya saat menyusui atau menidurkannya.

Aku juga membuat aneka kartu dan poster bergambar yang kutempel di dinding. Thia sangat suka bermain tebak-tebakan dengan menunjuk kartu-kartu atau poster-poster itu. Berkat bermain-main tersebut, tanpa sadar, Thia bisa membaca tanpa diajari secara khusus. Thia lancar membaca saat umur 3,5 tahun. Waktu itu, Thia sudah bersekolah di TK-A dan menjadi murid terkecil serta satu-satunya murid yang sudah lancar membaca. Selanjutnya, Thia lebih suka membaca sendiri buku-bukunya. Sering Thia berimprovisasi, berimajinasi dengan mengarang sendiri ceritanya berdasarkan gambar-gambar di dalam buku. Thia menjadi langganan juara lomba story telling di sekolah. Prestasi terbaik Thia saat TK adalah ketika menjadi juara kedua lomba baca puisi tingkat kecamatan. Lagi-lagi Thia menjadi peserta terkecil, tapi suaranya lantang dan sangat ekspresif.


Minta Dibuatkan Blog Sendiri
Setelah TK, Thia melanjutkan ke SD yang sama. Di sana ada peraturan yang sangat bagus dan sangat kusuka, yaitu murid-murid kelas 1 tidak diberikan PR. Sebagai gantinya, dalam satu minggu, mereka diminta membaca satu buku cerita bergambar, lalu menuliskan kembali ceritanya dengan bahasa sendiri. Tujuannya agar anak-anak semakin lancar membaca, sekaligus belajar memahami ceritanya. Namun, kegiatan ini tidak dipaksakan. Ada anak yang mau membaca, tapi tidak mau menuliskannya. Guru pun memintanya untuk menceritakan kembali di depan kelas secara lisan.

Nah, bagi Thia, kegiatan ini sangat mengasyikkan. Dalam seminggu, Thia bisa membaca dan menuliskannya kembali dengan bahasanya sendiri sebanyak lima buku. Akibatnya, koleksi buku di rumah selalu kurang bagi Thia. Setiap kali, Thia minta ke toko buku untuk membeli buku. Tapi dalam sekejap, buku-buku yang dibeli pun habis dibacanya.

Thia bercerita tentang awal menulis buku saat menjadi
bintang tamu di Kick Andy Metro-TV, 1 September 2017.

Selain suka membaca, aku juga suka menulis diary. Ketika muncul aneka blog untuk mengekspresikan tulisan, maka diary-ku ikut pindah ke blog. Thia pun ikut-ikutan menulis di blog. Kubiarkan Thia mengisi blogku. Cerita-cerita tentang kegiatannya di sekolah mengalir di sana. Sehari tidak hanya satu cerita, tapi bisa beberapa cerita. Lama-lama, Thia minta dibuatkan blog sendiri. Setelah kubuatkan, Thia pun makin rajin menulis. Setiap kali pulang sekolah dan selesai makan siang, Thia langsung menulis aneka cerita di blognya.

Blog pertama Thia yang dibuat saat Thia kelas 2 SD (6 tahun).

Perkembangan bacaan Thia semakin meningkat. Setiap kali ke toko buku, Thia mulai memilih majalah atau novel anak. Bersamaan dengan itu, Thia mengenal seri buku anak yang ditulis oleh anak-anak seumurannya, usia SD 7-12 tahun. Thia pun berkeinginan membuat ceritanya sendiri seperti para penulis cilik itu. Satu cerpen pertama yang berhasil ditulis Thia di blognya berjudul, “Cheseecake is Yummy”. Cerpen ini ditulis berdasarkan imajinasi Thia tentang seorang anak yang merayakan ulang tahun di kebun dan mendapat hadiah cheesecake kesukaannya.



Saling Support dalam Berkarya
Kegemaran Thia menulis, membuatku ingin menantangnya ikut lomba menulis. Saat itu, majalah anak terkenal langganan Thia mengadakan lomba karya tulis. Thia dengan senang hati menyambut tantanganku. Tak disangka, dari ribuan karya tulis yang masuk, tulisan Thia berjudul "Life Skill Memasak di Sekolahku" berhasil lolos. Thia pun berhak mengikuti kegiatan Konferensi Anak Indonesia 2009 sebagai delegasi DKI Jakarta. Lagi-lagi Thia menjadi delegasi termuda berusia 8 tahun, kelas 4 SD. Bersyukur Thia anak yang supel dan pemberani. Tak ada hambatan baginya untuk berkegiatan bersama 35 delegasi lainnya dari seluruh Indonesia, pada 25-30 Oktober 2009.


Pulang dari kegiatan Konferensi Anak Indonesia 2009, pada 8 November 2009, Thia langsung mengikuti Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2009. Syarat keikutsertaannya adalah mengirimkan satu naskah cerita anak. Sungguh tak disangka, berkat hobinya membaca dan menulis, dalam waktu yang berdekatan, Thia berhasil mengikuti dua kegiatan berskala nasional.

Melihat hobi menulis Thia yang ternyata serius dan sangat dinikmatinya itu, aku merasa harus membekali Thia dengan teori menulis yang baik dan benar. Saat liburan sekolah Desember 2009, Thia mengikuti pelatihan menulis yang diselenggarakan sebuah penerbit buku. Ternyata, sepuluh cerpen terpilih akan diterbitkan, termasuk cerpen Thia yang berjudul "Ladang Arloji". Bersamaan datang kabar bahagia lain, kumpulan cerpen Thia yang diikutsertakan sebagai syarat mengikuti Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2009 lolos kualifikasi dan akan diterbitkan juga. Kedua buku Thia itu terbit dan beredar di toko buku, empat bulan kemudian, tepatnya pada April 2010.

Thia bercerita tentang keinginannya menjadi penulis cilik saat menjadi
bintang tamu di Hitam Putih Trans7, 24 September 2014.

"Mama! Mama jangan cuma bisa support aku bikin buku, dong! Mama juga harus bikin buku kayak aku. Mama pasti bisa, deh! Aku aja bisa," tiba-tiba suatu hari Thia berkata seperti itu.

Aku kaget, tersentil, sekaligus gembira karena Thia perhatian juga dengan hobi menulisku. Dalam hati, aku tertawa geli. Sungguh, teorinya mudah. Menulis, mengirimkan karya ke penerbit, lalu terbit bukunya. Tapi tentu tidak semudah itu. Namun, tiba-tiba seorang sahabat baik menawariku ikut menulis dalam buku tentang jungkir baliknya kehidupan seorang wanita yang sudah berumah tangga. Dengan segera kutulis ceritaku dan kukirimkan kepadanya. Tidak hanya itu, seorang editor penerbit buku juga menawariku menulis dua cerita anak. Beliau menawariku setelah membaca tulisan-tulisanku di blogku. Katanya, tulisanku mengalir dan enak dibaca, masyaallah. Beliau memberikan contoh tulisannya, sekaligus membimbingku untuk bisa menuliskan cerita berdasarkan imajinasiku dengan rambu-rambu yang telah ditetapkannya.

Akhirnya, tiga buku pertamaku terbit. Semenjak itu, aku dan Thia saling support untuk terus menulis dan menerbitkan buku. Kami berlomba-lomba dalam berkarya. Saling membaca, mengoreksi, dan memberi masukan agar tulisan kami menjadi lebih baik lagi. Kami sebagai penulis, sekaligus sebagai editor cerita kami, sebelum karya-karya tulisan kami dikirim ke penerbit.

Kiri: tiga buku pertama karya Thia. Kanan: tiga buku pertama karyaku.


Bonus Gemar Membaca dan Menulis
Sejak buku pertamanya terbit, Thia pun diminta untuk mengisi workshop menulis ke sekolah-sekolah. Thia berbagi cerita tentang proses kreatif menulis, sekaligus menceritakan pengalamannya menerbitkan buku. Thia selalu menyampaikan manfaat dari membaca, menulis, dan menjadi penulis. Thia pun memberikan tips dan trik menulis ala Thia. Thia ingin teman-temannya mendapatkan manfaat seperti yang selama ini dirasakannya. Moto hidup Thia "The happiest moment is when you can share your happiness with others" diimplementasikannya dengan senang berbagi segala hal yang dia punya, termasuk berbagi ilmu tentang menulis melalui workshop menulis, maupun sebagai narasumber di media cetak dan televisi.




Walau sudah menjadi penulis dan sering mendapat bonus menjadi narasumber workshop menulis, Thia tidak pernah berhenti belajar menulis. Semenjak berhasil mengikuti Konferensi Anak 2009 dan Konferensi Penulis Cilik 2009, berturut-turut Thia lolos mengikuti kegiatan Konferensi Penulis Cilik 2010, Konferensi Penulis Cilik 2011, dan Konferensi Penulis Cilik 2012 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bonus tambahannya, Thia mendapatkan penghargaan sebagai Penulis Cilik Terbaik 2011 dan Penulis Cilik Terproduktif 2012.


Membaca, menulis, dan berkegiatan merupakan kegemaran Thia. Kolaborasi ketiganya mengantarkan Thia lolos seleksi menulis surat hingga mengikuti Writing Camp 2016, serta lolos menulis puisi hingga mengikuti Akademi Remaja Kreatif Indonesia 2017. Tak hanya itu, Thia bersama dua orang temannya diutus sekolah untuk mengikuti lomba film pendek pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2016 yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Dalam kegiatan ini, Thia menjadi pemain sekaligus penulis skenario. Thia dan kedua temannya berhasil meraih juara pertama tingkat walikota Jakarta Timur dan mendapat juara kedua tingkat propinsi DKI Jakarta. Hasil dari belajar menulis skenario dengan bonus dua kemenangan, membuat Thia dan timnya kecanduan membuat film pendek. Lagi-lagi mereka selalu mendapatkan juara.


Thia bercerita tentang awal menulis skenario film pendek saat menjadi
bintang tamu di Kick Andy Metro-TV, 1 September 2017.

Sebagai anak yang aktif berkegiatan dan senang berkenalan dengan teman-teman baru, Thia selalu mencari informasi tentang kegiatan-kegiatan yang bisa diikutinya. Biasanya, salah satu persyaratan seleksinya adalah membuat tulisan berbentuk esai. Di sinilah Thia mendapatkan manfaat lain dari kebiasaannya membaca dan menulis. Berkat karya esai yang ditulisnya, Thia berhasil lolos mengikuti berbagai kegiatan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pemerintahan dan non pemerintahan secara gratis. Sebut saja kegiatan Forum Pelajar Indonesia 2016, Duta HAM 2016, Indonesia Student Unite 2017, dan Parleman Remaja 2017.

Kemudian datang kesempatan untuk mengikuti kegiatan tingkat internasional, yaitu Harvard Model United Nations (HMUN), merupakan simulasi kegiatan sidang PBB yang diselenggarakan di Boston, Amerika Serikat. Kembali salah satu persyaratan seleksinyaa adalah mengirimkan esai sesuai tema yang telah ditetapkan. Singkat cerita, Thia berhasil lolos. Tapi kegiatan ini harus menggunakan biaya sendiri. Alhamdulillah, beberapa bulan sebelumnya, Thia terpilih sebagai salah satu penerima Pin Emas Anugerah Kebudayaan 2016 kategori Anak dan Remaja. Thia terpilih sebagai penulis produktif dan penggiat literasi. Selain mendapat pin emas dan sertifikat, Thia juga mendapat sejumlah uang sebagai hadiahnya. Dengan menggunakan hadiah uang tersebut, Thia berangkat ke Boston, Amerika Serikat, guna mengikuti Harvard Model United Nations (HMUN) yang diselenggarakan pada Januari 2017. Dari pengalaman inilah Thia kecanduan mengikuti kegiatan-kegiatan lain di luar negeri. Tentu saja, Thia mengincar kegiatan-kegiatan yang gratis.

Thia saat menjadi delegasi HMUN 2017 di Boston, Amerika Serikat.


Thia bercerita tentang kegiatannya di Harvard Model United Natiins (HMUN) 2017,
saat menjadi bintang tamu di Kick Andy Metro-TV, 1 September 2017.


Keliling Dunia Gratis Berkat Literasi
Tekad Thia mengikuti berbagai kegiatan ke luar negeri betul-betul dilaksanakannya. Thia membidik kegiatan-kegiatan yang sesuai minatnya, namun gratis. Seleksinya, selain melampirkan  CV (Curriculum Vitae), juga membuat tulisan esai dalam bahasa Inggris. Ada juga yang menambahkan persyaratan membuat rekaman video dalam bahasa Inggris. Dilanjutkan dengan wawancara menggunakan bahasa Inggris. Nah, dari sekian banyak seleksi yang diikuti Thia, ada yang lolos dan ada yang tidak lolos. Semua diterima Thia sebagai dinamika berkompetisi.

Setelah mengikuti Harvard Model United Nations (HMUN) di Boston, Amerika Serikat, kegiatan-kegiatan ke luar negeri yang berhasil Thia ikuti secara gratis adalah:
  1. Menjadi delegasi 5TH ASIA PACIFIC YOUTH EXCHANGE 2018 dan berhak mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Urban Youth Academy dan Asian Development Bank di Manila dan Quezon, Filipina, 9-20 Januari 2018.
  2. Menjadi delegasi BUSAN INTERNATIONAL KIDS AND YOUTH FILM FESTIVAL 2018 dan berhak mengikuti Busan International Youth Film Camp di Busan, Korea Selatan, 11-18 Juli 2018.
  3. Menjadi delegasi UNIVERSAL KIDS FILM FESTIVAL 2018 di Istanbul, Turki, 20-24 September 2018.
  4. Menjadi delegasi ASEAN UNIVERSITY STUDENT COUNCIL UNION (AUSCU) mewakili Indonesia dan Universitas Padjajaran di Singapore, 14-17 Desember 2018.
  5. Menjadi delegasi The DICE (Developing Inclusive and Creative Economics) Young Storymakers Programme di London, 17-24 Mei 2019. Merupakan kegiatan kerjasama antara British Council dengan Pioneers Post.
  6. Menjadi delegasi ASEAN Intergovermental Commission on Human Rights (AICHR) Interregional Dialogue on Business and Human Rights bersama Menteri Luar Negeri RI, Ibu Retno Marsudi, di Bangkok, Thailand, 9-12 Juni 2019.
  7. Menjadi delegasi Indonesia dalam NUS Enterprise Summer Programme on Entrepreneurship di Singapore, 14-27 Juli 2019. Kegiatan ini didanai secara penuh olehTemasek Foundation International Singapore bekerja sama dengan National University of Singapore (NUS).
Atas, Ki-Ka: APYE (Philipina), AUSCU (Singapore)
Tengah, Ki-Ka: BIKY (Korea Selatan), UKFF (Turki), NUS (Singapore)
Bawah, Ki-Ka: DICE (Inggris), AICHR (Thailand).

Total tujuh negara yang telah Thia kunjungi berkat Literasi, yaitu Amerika Serikat, Philipina, Korea Selatan, Turki, Singapore, Inggris, dan Thailand. TUJUH NEGARA dalam DELAPAN KEGIATAN sebagai delegasi Indonesia, yang tentu saja mewakili Indonesia.

Semua pencapaian itu berkat kecakapan literasi yang dimiliki Thia sejak kecil.
  1. Kecakapan membaca dengan baik, sehingga paham akan bacaan.
  2. Kecakapan menulis yang dituangkan dalam beragam jenis tulisan, terutama esai.
Berkat kecakapan literasi yang dimilikinya itu, Thia juga berhasil masuk ke dalam berbagai organisasai dan komunitas yang sesuai dengan bakat dan minatnya, serta aktif di sana. Saat ini, Thia tercatat sebagai Dewan Etik Persatuan Penulis Indonesia (SATUPENA) dan sebagai Dewan Penasihat Muda Plan International Indonesia. Thia juga menjadi kontributor Pioneers Post, media cetak dan online Inggris yang memberitakan tentang kewirausahaan sosial dari seluruh dunia.

Bonus lain, selain memperoleh beberapa penghargaan tingkat nasional seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Thia pun memperoleh penghargaan Internasional Diana Awards 2018  dari The Diana Award, Diana Foundation, London, Inggris, sebagai orang muda inspiratif dunia atas konsistensinya sejak umur 9 tahun menularkan gemar membaca dan menulis dengan berkarya dan mengajarkannya. Kemudian Thia juga mendapatkan penghargaan International Young Superheroes 2018 dari Plan Ungdom, Plan International Norway, Norwagia, sebagai aktivis muda Development Goals (SDGs) yang bergerak dalam perlindungan hak anak dan wanita.


Terlepas dari semua prestasi yang diraih di bidang literasi dan organisasi, Thia pun berhasil mempertahankan prestasinya di bangku sekolah, dan kini di bangku kuliah. Baru-baru ini, Thia memperoleh penghargaan Mahasiswa Berprestasi Fakultas FISIP, Universitas Padjajaran.



Keluarga Menjadi Awal Gerakan Literasi Nasional
Ternyata manfaat dari literasi, terutama kecakapan membaca dan menulis itu sangat luar biasa. Tidak hanya sebagai media hiburan, tapi juga bisa menambah pengetahuan dan wawasan akan banyak hal. Bahkan bisa keliling dunia dengan gratis.

Merujuk kepada pengalamanku di atas, berliterasi haruslah dimulai dari keluarga, dari rumah. Dari pengalamanku berliterasi di dalam keluarga, maka dapat kurangkum sebagai berikut:
  1. Orangtua harus menjadi contoh berliterasi dalam keluarga. Bila ingin anak-anaknya suka membaca buku, maka orangtua harus membaca buku. Demikian pula bila ingin anak-anaknya suka menulis, maka orangtua pun harus menulis.
  2. Membiasakan anak-anak bercengkerama dengan buku sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membacakan buku setiap saat.
  3. Sering mengajak anak-anak ke toko buku atau perpustakaan agar terbiasa melihat buku, sekaligus merangsang mereka untuk mau membaca buku.
  4. Memenuhi tiap sudut rumah dengan buku-buku agar anak-anak terbiasa dan tertarik melihat buku, kemudian mau membacanya.
  5. Membuat perpustakaan kecil di rumah yang berisi aneka ragam buku, termasuk buku-buku yang menjadi kesukaan tiap anggota keluarga.
  6. Memberikan perhatian dan support kepada anak-anak yang memiliki ketertarikan lebih di bidang literasi. Misalkan dengan membuatkan blog, membantu mengetikkan tulisan yang sudah dibuat, bahkan berusaha menyalurkan karya-karya anak untuk dapat diterbitkan.
  7. Melakukan investasi masa depan bagi anak di bidang literasi dengan memberikan kesempatan mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan literasi. Misalkan dengan mengikuti pelatihan menulis atau masuk ke dalam komunitas literasi.
  8. Memberikan apresiasi dan pujian tiap kali anak-anak melakukan praktik baik berliterasi. Misalkan saat anak berhasil menyelesaikan buku yang dibacanya atau setelah menceritakan pengalamannya di sekolah.
  9. Membiasakan untuk memberi buku-buku sebagai hadiah kepada anak-anak atas berbagai prestasi yang telah mereka raih.
  10. Memahami bahwa tiap anak mempunyai tingkat ketertarikan yang berbeda dalam bidang literasi, sehingga dibutuhkan kreativitas orangtua untuk dapat memancing mereka mau berliterasi. Misalkan terhadap anak-anak yang suka bermain games, maka orangtua bisa memancing mereka mau membaca dengan kompensesi memperbolehkan mereka bermain games selam 15 menit.
  11. Melakukan gerakan membaca buku bersama bagi seluruh anggota keluarga. Pada saat itu, tiap anggota keluarga membaca buku yang mereka inginkan, lalu menceritakannya kembali di hadapan semuanya.
  12. Bekerjasama dengan guru-guru di sekolah agar praktik baik berliterasi di rumah bisa sejalan dan selaras dengan di sekolah. Misalkan guru memberikan tugas kepada anak-anak untuk membaca buku cerita, lalu menceritakannya kembali dengan menuliskannya ke dalam buku tulis.  Orangtua membantu anak-anak mencarikan buku-buku tersebut dan turut mendampingi mereka dalam menyelesaikan tugasnya.
Tiga lemari buku berisi koleksi buku-buku di perpustakaan kami, Perpustakaan Fadhila.


Referensi:
  1. Pengalaman pribadiku.
  2. Blog putriku, Muthia Fadhila Khairunnisa (Thia).
  3. Video-videoku di Youtube, Shinta Handini.
  4. Video Kick Andy Metro-TV dalam Membuka Jendela Dunia 1.
  5. Video Kick Andy Metro-TV dalam Membuka Jendela Dunia 2.
  6. Video Kick Andy Metro-TV dalam Membuka Jendela Dunia 6.


Minggu, 24 Mei 2015

Lolos KKJD Hunt!


Selasa malam, 19 Mei 2015, sehabis shalat Maghrib, aku sudah bersiap pergi. Sudah pakai baju pergi (seperti biasa pakai baju kebangsaanku; celana jin, kaos lengan panjang, dan jilbab), sudah pakai sepatu yang nyaman buat nyetir, sudah menenteng tas, dan sudah pegang kunci mobil. Ariq dan Arza juga sudah siap. Sebelum maghrib, mereka memang sudah kuminta untuk berganti pakaian dengan baju dan celana yang kupersiapkan. Tinggal Thia, nih! Iiih ... gemas banget!

Gimana enggak gemas, coba? Maksain pergi malam itu, ya, buat kepentingan Thia. Padahal aku, tuh, paling enggak suka pergi malam dan harus nyetir mobil pula. Kalau perginya sudah telanjur sampai malam, ya, enggak apa-apa juga nyetir mobil. Kan, tinggal pulang. Masa mau menginap di jalan? Lah, ini, sudah dari pagi diingatkan untuk cepat pergi supaya beres urusannya, tapi jawabannya: "Sebentar, Ma, tinggal sedikit lagi!", "Nanti dulu, Ma, tanggung nih!", "Iya, sebentar lagi. Enggak lama, kok!"

Hiyaaa ... enggak lama apa, cobaaa .... *saking gemasnya*
Sampai selesai maghrib, belum beres juga dan belum siap-siap. Terpaksalah harus dipaksa siap. Mau nungguin Thia selesai? Bisa-bisa mal keburu tutup. Hari kerja, kan, mal tutup pukul 9 malam. Sementara mal yang paling dekat dari rumah (Mal Arion Rawamangun) membutuhkan waktu paling cepat setengah jam perjalanan. Kalau macet bisa sejam lebih. Keburu tutup, kan?

Sebenarnya, mau ngapain, sih, ke mal malam-malam? Maksain harus malam itu pula?
Masalahnya, besok pagi itu, Rabu, 20 Mei 2015, Thia ada acara farewell party bareng teman-teman satu angkatan kelas 9, SMP Labschool Jakarta di Plaza Bapindo. Baju, tas pesta, dan hiasan rambut ala great gastby sudah siap (tema pesta: great gastby). Sementara sepatu pestaku enggak ada yang muat di kaki Thia. Nah! Semuanya sudah siap, masa terus nyeker? Iiiih .... >.<

Singkat cerita (karena masih banyak acara ntar-ntar dari Thia dan ngomel-ngomel dari aku), akhirnya Thia berhasil diajak pergi. Kami pun sampai mal sekitar pukul 7.20 malam. Setelah parkir mobil, aku bergegas mengajak Thia, Ariq, dan Arza langsung menuju departement store Mal Arion ke counter sepatu. Ariq dan Arza izin duduk di bangku yang disediakan di dekat counter sepatu itu. Pintar! Daripada capek ngikutin aku dan kakaknya, mending istirahat.

Muter sekali, belum ada yang cocok. Muter kedua kali, aku melihat ada sepatu pesta sederhana berhak tiga senti di salah satu raknya. Kutawari Thia. Tapi, Thia enggak suka. Muter lagi, deh! Kali ini semua sepatu pesta dilihat detail dan dicoba satu per satu. Ada yang cocok, tapi tingginya sekitar tujuh senti. Alamaaak ...!
Aku bilang sama Thia, "Mama, dulu, waktu kerja, pakai high heels tiga sampai lima senti saja, capeknya minta ampun. Kamu yang belum pernah pakai high heels mau langsung pakai yang tujuh senti? Paling belum ada setengah jam sudah ngeluh capek. Pestanya enggak sebentar, lho! Dari jam delapan pagi sampai jam lima sore. Kalau kuat, ya, silakan."
Thia mikir sebentar dan akhirnya memutuskan enggak jadi pilih sepatu yang itu.

Saat mengedarkan pandangan, aku melihat tak jauh dari situ, ada counter aksesori. Spontan aku melangkah ke sana. Ada berbagai macam aksesori lucu. Di kepalaku yang terbayang adalah anting silver yang sesuai dengan hiasan rambut dan hiasan bajunya Thia. Setelah menimbang-nimbang berbagai pilihan anting, termasuk menimbang harganya yang paling murah (ini sudah pasti khas emak-emak, mau dapat bagus tapi murah), juga yang cocok dengan selera Thia, akhirnya pilihan jatuh pada anting panjang silver yang simpel. Langsung, deh, minta bonnya.
Sepatu masih belum dapat, malah tambah beli anting. Nah, salah sendiri, kan, nambah-nambahin belanjaan, padahal Thia enggak minta. Hehehe ... tapi senanglah bisa menyenangkan anak. :D

Setengah jam sudah berlalu. Sepatu belum dapat. Sejam lagi, mal tutup. Buru-buru aku mengajak Thia buat keliling counter sepatu lagi. Aku mencoba membujuk Thia untuk mempertimbangkan sepatu pilihanku yang pertama. Aku merasa sepatu itu yang paling cocok buat Thia dan serasi sama baju dan aksesorinya yang lain. Thia pun akhirnya mencoba. Dia kelihatan langsung suka. Nah, cocok dan enak dipakai, kan? Sebelum Thia berubah pikiran, aku langsung minta sama pegawai tokonya untuk mengambilkan sepatunya yang baru dan sesuai ukuran kaki Thia. Pas kebetulan sepatu yang dipajang dan dicoba, nomornya sesuai ukuran kaki Thia.
Begitu sepatunya datang, dicoba, dan Thia kelihatan puas, aku kembali minta bonnya.

Pfiuuuh ... akhirnya selesai acara belanjanya. Sepertinya, ini belanja superkilat yang pernah aku lakukan. Malam-malam pula. Untung malnya belum tutup. Untung semua yang dicari ada walau sedikit muter-muter dulu. Kalau enggak, bisa pucing pala Shinta. Hahaha ....

perlengkapan farewell party Thia
Thia, my princess. Proud of you, Dear.

Selesai membayar semuanya, aku mengajak Thia, Ariq, dan Arza untuk makan malam sebelum pulang. Ariq dan Arza langsung girang. Kebayang bete-nya mereka menunggu selama sejam dengan pesan keras dariku supaya tidak ke mana-mana, harus diam di tempat. :D

Makan malam yang terlambat. Habis kalau makan malam dulu, nanti departement store-nya keburu tutup. lagipula bakal enggak tenang kalau belum dapat yang dicari. Hehehe ....
Kami pun lantas menuju restoran terdekat.

Saat makan malam, baru tenang dan legalah hati ini. Jam di restoran menunjukkan pukul 8.15 malam. Masih ada waktu sekitar 45 menit untuk makan dengan santai. Semua barang yang dicari sudah dapat, makan pun tidak perlu terburu-buru karena takut diusir. Buka gadget sebentar, aaah ...! Dari tadi aku merasa ada beberapa notifikasi. Aku menebaknya, sih, dari whatsap grup ibu-ibu kelas 9, kelasnya Thia. Biasa, deh, persiapan acara anak-anak, emak-emaknya yang repot. :D

Eh, ada notifikasi Facebook lagi. Tadi, saat masih di jalan (waktu lagi nyetir menuju mal), aku sudah melihat notifikasi Facebook ini. Tapi, daerah Rawamangun dan sekitarnya itu memang sinyal lep-lepan alias susah banget. Notifikasi sosial media masuk, tapi sering enggak bisa dibuka. Loading terus. Nah, setelah melihat obrolan whatsapp grup ibu-ibu kelas 9, aku pun langsung mencoba membuka notifikasi Facebook lagi. Ada beberapa sahabat kecilku di Facebook yang mention namaku dalam komentar mereka.

Kali ini, aku beruntung bisa masuk ke Facebook dan membuka notifikasi yang mention namaku itu. Masya Allah ... aku benar-benar kaget dan enggak menyangka. Aku sampai meminta Thia untuk membaca juga. Siapa tahu, aku salah baca. Tapi, benar kata Thia yang kubaca itu. Terima kasih buat Indzana Zulfa yang sudah mention pertama kali di postingan Panspage Facebook KKPK.
Luar biasa senangnya hatiku. Alhamdulillah, naskah yang kutulis dan kuikutsertakan dalam Lomba KKJD Hunt! lolos. Langsung, deh, perut terasa kenyang, padahal makanan yang kupesan belum tersentuh. Hahaha ... lebay, deh!

Link postingan: https://www.facebook.com/KKPKMizan/posts/10150508670914944

Terus ... cuma begitu saja? Cuma mau bilang lolos KKJD Hunt! saja, tapi muter-muter cerita tentang Thia dan segala macam kehebohan sebelumnya.
Ya, enggak begitu juga. Aku ingin mengabadikan saat-saat sebelum dapat kejutan sekaligus hadiah yang luar biasa bagi diriku. Karena di balik naskah KKJD Hunt! yang kukirimkan ini, ada tekad, pembuktian, support, juga insya Allah merupakan buah dari keikhlasan.

Boleh dibilang, naskah KKJD Hunt! yang kutulis ini, "karena" dan "untuk" Thia. Aku tidak memikirkan naskahku ini bakal lolos. Tujuanku hanya satu, yaitu untuk menyemangati Thia, membangkitkan kembali gairah menulisnya, membuktikan kalau segala kesibukan tidak bisa menghalangi menulis apabila sudah menjadi "passion".

Aku bilang sama Thia,
"Passion itu adalah jiwa. Segala sesuatu yang dilakukan tanpa passion akan terasa hampa. Kalau kamu merasa menulis adalah passion kamu, maka kamu tidak akan merasa lelah apalagi terganggu dengan menulis. Justru kalau tidak menulis, kamu merasa ada yang hilang dari diri kamu. Kamu akan merasa mati, karena kamu tidak bisa mengalirkan napas kamu dalam keseharian kamu."
Kalimat-kalimat itu berkali-kali kuucapkan kepada Thia. Beberapa saat yang lalu, Thia memang seperti hilang semangat untuk menulis. Bisa dimaklumi, mungkin Thia sedang ingin beristirahat sejenak "menulis" setelah menyelesaikan penelitian dan karya tulis (bentuknya seperti skripsi mahasiswa), kemudian sidang karya tulis sebagai salah satu syarat kelulusan SMP. Setelah itu lanjut dengan persiapan untuk Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN). Hampir tiap hari pulang sekolah lebih sore dan sampai rumah menjelang maghrib, karena ada Pendalaman Materi (PM) dan pemantapan pelajaran. Pfiuuuh ... aku yang melihat dan antar jemput Thia saja, berasa ikutan capek. Tapi, walaupun tidak "menulis" dalam arti menulis naskah, aku ingin Thia menulis seperti biasa di dalam blog atau notes netebook-nya yang hanya sekadar menceritakan keseharian ataupun perasaan-perasannya. Tapi ini tidak. Blas (kata orang Jawa), Thia sama sekali tidak menulis.

Duh, aku jadi cemas. Aku sampai berulang kembali menanyakan kepada Thia, apakah menulis masih menjadi passion-nya? Kalau pun tidak, mungkin sama seperti balet dan piano, aku kembali harus legowo menerimanya jika Thia merasa cukup sudah untuk menjalani kegiatan menulis. Aku tidak mau memaksakan Thia untuk menekuni hal yang sudah tidak ingin dilakukannya, termasuk "menulis". Aku mau Thia bersemangat mengejar dan bekerja keras untuk sesuatu yang menjadi passion-nya. Bagiku, apa pun itu, aku akan support.

Ikut Lomba KKJD Hunt! adalah salah satu upayaku untuk menyemangati sekaligus membuktikan kepada Thia, kalau menulis merupakan "passion" maka apa pun rintangannya pasti bisa dihadapi. Sebelumnya, aku sempat ragu. Bisa, enggak, ya, aku menyelesaikannya tepat waktu? Masalahnya, deadline-nya tinggal kurang dari tiga minggu. *tepok jidat*
Tapi, aku harus bisa. Butuh tekad kuat sekeras baja untuk menyelesaikannya. Di kepalaku langsung terbayang idenya. Ide sederhana yang terinspirasi dari banyaknya inbox yang berasal dari sahabat-sahabat kecilku. Berbagai macam cerita kudapatkan di sana. Mulai dari sekadar sapaan, pembicaraan seputar hal-hal yang berhubungan dengan kepenulisan, hingga curhatan-curhatan mereka. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya.

Ya, aku sudah lebih dari tiga tahun tidak aktif posting di dua facebook-ku, semenjak papaku sakit dan aku harus menyetir sendiri. Tidak ada alasan khusus. Aku hanya terlalu lelah menyetir mobil. Aku yang dulu kalau di mobil selalu tidur dan bahkan tidak tahu jalan-jalan yang ada di Jakarta (padahal dari umur dua tahun sudah tinggal di Jakarta), semenjak menyetir mobil sendiri, aku harus "melek". Yang kumaksud "melek" di sini dalam arti tidak boleh tidur karena aku sopirnya dan melek jalan (menghafal dan memikirkan jalan-jalan alternatif yang tidak terlalu macet yang akan kulalui). Perubahan drastis itu membuatku capek luar biasa. Butuh waktu setahun untuk penyesuaiannya. Apalagi aku itu kalau sudah masuk mobil, ngantukan. Walau sudah cukup tidur, kalau kena AC mobil, mata rasanya sudah ingin dipejamkan dan pikiran pun sudah melayang-layang ke alam mimpi. Hadeeeh .... >.<

Kan, bisa buka sosial media pas lagi menunggu kegiatan Thia, Ariq, dan Arza? Memang bisa, tapi cuma bisa lihat notifikasi yang masuk saja. Begitu dibuka, loading-nya lama betuuul .... >.<
Aku sampai sekarang juga enggak mengerti, kenapa di daerah Rawamangun itu sinyalnya susah banget, ya? Mungkin karena banyak gedung-gedung tinggi dan jalan layang yang menghambat sinyal. Entahlah, itu kecurigaanku saja, sih. Belum ada jawaban yang pas sampai sekarang. Yang jelas, komunikasi dengan Thia (yang bawa handphone ke sekolah) selama ini susah. Padahal, Labschool itu sempit ruang parkirnya. Sementara, parkir di pinggir jalan enggak boleh. Pengalamanku sendiri soalnya. Ban mobilku pernah dikempisin oleh Polisi Dinas Perhubungan Jalan Raya saat aku parkir melipir di depan Labschool. Padahal cuma sebentar parkirnya, cuma mau menjemput Thia karena SMS dan whatsapp yang kukirimkan belum diterima Thia. Telepon juga masuk ke kotak suara. Mangkanya, kapok parkir melipir di Labschool.

Begitulah alasanku sudah tidak aktif posting di dua facebook-ku. Tapi, hal ini malah membuatku nyaman. Tidak ikut dalam kehebohan postingan-postingan dan komentar-komentar di Facebook. Sesekali ikut komentar kalau pas di beranda ada teman yang berbagi postingan. Tapi, sepertinya ... ya, aku banyak ketinggalan berita. Settingan Facebook juga telah menentukan kalau teman-teman yang muncul di beranda adalah teman-teman yang paling banyak berinteraksi dengan pemilik Facebook. Nah, interaksiku kebanyakan dengan sahabat-sahabat kecilku via inbox. Otomatis beranda Facebook-ku isinya tentang mereka semua. :D

Lah, malah ngelantur ngomongin Facebook. Hahaha ....
Balik lagi, deh, ke naskah KKJD Hunt! ku. Dari ide yang ada, aku langsung membuat outline-nya. Aku memikirkan untuk membuat 8 bab masing-masing kurang lebih 5 halaman. Pas, nantinya akan jadi 40 halaman sesuai persyaratan lomba.

Selesai buat outline, belum langsung ditulis, tuh! Ada editan naskah yang harus kukerjakan. Selesai menyerahkan editan, aku kembali membaca outline yang kubuat. Ada perbaikan di sana-sini. Setelah selesai, aku mencoba menuliskannya. Awalnya lancar, dapat 4 halaman bab pembuka. Tapi, terus kemudian stack. Aku merasa konfliknya kurang greget.
Eh, ada editan naskah lagi yang datang. Ke-pending lagi, deh, tulisannya. Kerjain editan dulu, dong! Selesai membereskan kerjaan mengedit naskah, aku balik lagi ke naskah tulisanku sendiri. Huhuhu ... tersendat. Aku masih sibuk corat-coret outline lagi, mengubahnya. Setelah beres, aku malah pesimis untuk melanjutkan. Hingga beberapa hari kudiamkan. Aku sibuk dengan pekerjaan-pekerjaanku yang lain yang berhubungan dengan menulis juga.

Waktu terus berjalan, dong! Masa aku cuma bisa ngomong sama Thia? Action mana action? Maka, dengan sekuat tenaga, kukumpulkan kembali mood-ku untuk menulis. Aku bertekad harus bisa, harus selesai tepat pada waktunya, harus dikirim, harus buktikan kepada Thia kalau menulis itu bukan penghalang. Apalagi kalau menulis sudah jadi "passion". Semangat boleh turun sejenak, tapi harus segera bangkit lagi. Semangaaat ...!

Hari kedua menulis naskahku, aku cuma dapat 8 halaman. Baru masuk bab 3 dengan total yang sudah kutulis 12 halaman. Huhuhu ... masih jauh. Waktu tinggal seminggu lagi, nih!
Alhamdulillah, selalu ada jalan. Pas kebetulan waktu itu Thia, Ariq, dan Arza libur sekolah beberapa hari. Mereka menginap di rumah neneknya. Yes! Aku langsung ngebut menulis. Alhamdulillah dalam dua hari, selesai juga tulisanku itu. Tapi, jumlah halamannya kelebihan. Seluruh naskah tulisanku berjumlah 46 halaman. Wah, harus dipangkas 6 halaman, dong!

Masih ada waktu beberapa hari. Sempat seharian kudiamkan naskahku itu. Aku mengerjakan pekerjaan lain. Keesokan harinya, baru kubuka lagi naskahku, kurapikan sekaligus kuedit dan kubuang paragraf-paragraf yang tidak terlalu penting. Alhamdulillah, selesai. Pas 40 halaman jadinya. Lega luar biasa. Kutunjukkan sama Thia dan kuminta untuk membaca sekaligus mengoreksi tulisanku. Ekspresi Thia datar saja. Cuma bilang, "Bagus."
Sudah, gitu doang? Enggak ada komentar lainnya? Hiyaaa ... gemas, kan, jadinya. >.<
Tapi enggak apa-apalah. Yang penting aku sudah membuktikan kalau aku bisa menyelesaikan naskahku. Aku bisa memenuhi targetku. Aku juga bisa memenuhi janjiku kepada diriku sendiri. Itu semua sekaligus pembuktian kepada Thia kalau aku enggak cuma ngomong. Ada tekad, ada target, ada action. Walaupun banyak pekerjaan lain, tapi semua terpenuhi, tuntas, selesai.

Dengan dikirimnya naskahku untuk Lomba KKJD Hunt!, aku sudah berhasil. Paling tidak, aku berhasil membuktikan kepada diriku sendiri dan Thia, kalau aku bisa. Lebih senang lagi, Thia jadi terkompori untuk menulis lagi. Dia mulai terbuka kembali menceritakan segala macam ide yang ada di kepalanya untuk ditulis. Aku sampai terpana mendengar cerita-cerita Thia. Tujuanku yang kedua tercapai. Thia mulai tumbuh semangatnya untuk menulis kembali. Alhamdulillah.

Ya, ini usahaku yang paling keras buat menyemangati Thia untuk kembali menulis. Seandainya Thia memilih untuk tidak "menulis" lagi, ya tidak apa-apa. Aku akan support apa pun kemauan Thia. Salah satu upayaku terhadap Thia adalah mengikutkannya ke acara "Public Speaking for Teens" yang dibimbing oleh Pak Jamil Azzaini. Selama 3 hari 2 malam, para peserta diajak membuka diri dan di-support untuk tampil percaya diri. Mereka juga diajak merancang masa depan sesuai passion mereka. Di hari terakhir, para peserta mempresentasikan 4ON mereka, yaitu VisiON, ActiON, PassiON, dan CollaboratiON dalam bentuk life plan.


Pada presentasinya, Thia mengungkapkan semuanya, mengungkapkan 4ON miliknya. Satu yang kucatat, Thia ingin terus menulis. Dia ingin karyanya bisa difilmkan. Dia juga ingin masuk kuliah jurusan Psikologi di Universitas Indonesia. Thia menyampaikannya dengan penuh semangat. Dia begitu lepas menguraikan semua kemauan, impian, dan cita-citanya. Aku sampai merinding dan meneteskan air mata mendengarnya. Semoga apa yang menjadi 4ON-mu tercapai ya, Sayang. Pasti bisa! Dengan usaha dan doa, Insya Allah bisa. Semuanya akan tercapai. Aamiin.

Tidak hanya itu, Thia menjadi peserta terbaik di kelompoknya. Kak Nefri, mentor di kelompok Thia bilang, "Selain Thia sudah terbiasa tampil di depan umum, Thia juga merumuskan life plan-nya dengan sangat bagus. Thia juga bisa membumi dan berbaur dengan teman-temannya tanpa ada jarak, mengingat prestasi Thia yang sudah mengeluarkan banyak buku. Itu yang paling sulit. Kemampuan Thia untuk memahami lingkungan, kemampuan Thia untuk mengerti teman-temannya, bagaimana dia bersikap, dengan segala kelebihannya, dia mampu untuk merendahkan hatinya. Seorang yang hebat adalah orang yang rendah hati, yang mau menerima masukan."
Alhamdulillah, tetap rendah hati, ya, Sayang.

Pfiuuuh ... jadi melantur ke mana-mana, ya? Hehehe ....
Ya, tapi begitulah ceritanya. Semua cerita yang berada di balik naskah KKJD Hunt! yang kutulis dan kukirim. Alhamdulillah, sekali lagi rasa syukur kupanjatkan kepada Allah Swt.

Oh, ya, dari sekian banyak buku yang telah kutulis, naskahku ini akan menjadi novel perdanaku. Butuh perjalanan panjang hingga aku mempunyai novel sendiri. Banyak pelajaran yang kuterima. Dulu, aku pernah melepaskan hakku terhadap janji penerbitan sebuah novel. Aku ikhlas Lillahi Ta'ala. Tidak ada dendam dan tuntutan dariku. Tidak ada. Aku hanya percaya, itulah jalan Allah. Saat itu, belum waktunya aku mempunyai karya berupa novel sendiri. Selanjutnya, aku tetap menulis dan belajar editing. Tak disangka, aku kemudian menjadi editor cerita anak bersama dua teman sesama penulis (Mbak Saptorini dan Mbak Ridha Anwar). Sekarang, sudah masuk tahun ketiga kami menjadi editor cerita anak di penerbit besar di Bandung. Dari sini, aku banyak belajar. Dengan menjadi editor cerita anak, aku banyak berinteraksi dengan anak-anak, banyak membaca tulisan mereka, hingga aku tahu gaya tulisan mereka.
Ya, aku tidak pernah menyesali semua jalan yang telah Allah gariskan kepadaku. Semua pasti ada hikmahnya. Di akhir perjuangan, pasti ada hadiah cantik yang tersedia. Sudah berulang kali aku membuktikannya. Semua yang kujalani ini mengalir, tanpa dicari-cari.

Sepertinya, aku harus mengakhiri tulisanku ini. Kalau enggak, yakin, deh, bakal cerita ke mana-mana. Ini saja sudah kepanjangan, sudah enggak fokus lagi ceritanya. Hehehe ....
Yang jelas, aku berusaha berbuat segalanya yag terbaik ... untuk keluargaku, untuk pekerjaanku, dan untuk keseluruhan dalam hidupku. Ikhtiar, iklas, dan doa. Insya Allah semuanya akan dilancarkan dan dimudahkan. Aamiin aamiin ya rabbal 'alamiin. ^_^


Jumat, 23 Januari 2015

Paket Buku Editan Saya


Yeaaay ... dapat lagi paket dari Penerbit Mizan! *gaya hore-horenya Thia* :D
Kali ini isinya dua buku editan saya. Yang satu seri KKJD (Kecil-Kecil jadi Detektif) dan satu lagi seri KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). Judulnya?
Ini judulnya .... *biar panjang tulisannya* :D
1. KKJD Misteri Biola Konser
2. KKPK Pesta Lampion

Saya enggak tahu, kapan diantarnya paket buku ini oleh pengantar paketnya. Mungkin malam? Atau bahkan tengah malam? Hiiiy ... horor! *lebay to the max* :D
Soalnya, pas saya pulang menjelang maghrib dari berkegiatan seharian di luar rumah, paketnya belum ada. Nah, pas pagi harinya, tau-tau paketnya udah mengintip dengan manis dari kolong kursi teras. Sambil kedip-kedip minta diambil pula. *halah* Hahaha ....

Terus, kan, saya posting di instagram, tuh, ceritanya. Saya tulis juga, dong, keheranan saya ini. Eh, Mbak Yulia komen. Katanya, "Kan, judulnya pun 'misteri', Mbak."
Hohoho ... iya juga, ya? :D

Ya, pokoknya senanglah.
Senang dapat paket.
Senang bisa isi blog lagi.
Senang asyik ngoceh suka-suka saya di blog. :D

Buku Saya dan Cetak Ulang Buku Thia


Alhamdulillah, dua cerita saya yang pernah diterbitkan dalam picture book seri Islamic Princess, kini diterbitkan lagi dalam buku kumpulan dongeng yang berjudul "Princess Hafidza dan Kue Stroberi". Senang? Tentu saja. Ya, sudah lama saya tidak mengeluarkan karya berupa buku tulisan saya. Tiba-tiba dapat paket bukti terbit buku ini, senangnya luar biasa, walaupun bukan karya baru. Ditambah lagi, di dalam paket tersebut, ada bukti cetak ulang ke-4 Fantasteen Ghost Dormitory in Seoul karya Thia.

Ah, kangen rasanya menulis lagi. Selalu saja ada banyak alasan untuk mulai menulis. Padahal, jika mau, pasti bisa. Ayo, atur waktu sebaik mungkin! Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa! Bismillah. ^_^

Kamis, 18 Desember 2014

Paket Bukti Terbit dan Cetak Ulang


Alhamdulillah, dapat paket bukti terbit dan bukti cetak ulang lagi dari Penerbit Mizan. Seperti biasa, datangnya sudah beberapa hari yang lalu dan terpisah (tidak dalam satu paket). Tapi, ya seperti biasa juga, baru sekarang diabadikan di postingan blog. Hehehe. :D

Kali ini buku-buku yang saya terima, yaitu:
  1. Bukti terbit editan saya KKPK Karang Berbisik dan KKPK Gedung Seribu Pintu.
  2. Bukti cetak ulang ke-3 Komik KKPK New Look of Alika yang ada karya saya di dalamnya.
  3. Bukti cetak ulang ke-2 Komik KKPK Teka-Teki Rumah Hantu yang ada karya Thia di dalamnya.
Kali ini cuma sedikit. Tapi tetap senang dan bersyukur. Semoga kami berdua tetap terus bisa berkarya dan diberi kesempatan terus oleh pihak penerbit untuk mengeluarkan karya. Aamiin. ^_^

Rabu, 26 November 2014

Paket Buku Terbanyak dari Penerbit Mizan

Ini adalah cerita lama yang baru sempat dituliskan. Halah, alasan! Hehehe.
Ya, begitulah. Biar lambat asal diabadikan di blog saya ini. :D

Enggak perlu berpanjang-panjang. Yang jelas, senang banget ketika sebulan lebih yang lalu, tepatnya pada Selasa, 17 Oktober 2014, kami mendapat kiriman paket dari Penerbit Mizan. Sebenarnya kami sering mendapat paket buku-buku seperti ini. Tapi kali ini, paketnya lumayan banyak. Ada 3 paket untuk Thia dan 2 paket untuk saya. Ini dia penampakan paket-paket yang kami terima tersebut:


Apa ya, isinya? Thia yang paling penasaran ingin segera membukanya, saya kerjain dulu. Saya bilang, "Ini kejadian langka. Jarang-jarang kita dapat paket seabrek gini. Jadi, harus diabadikan dulu."
Padahal, sih, kertas pembungkusnya udah pada sobek di ujung-ujungnya. Thia sempat mengintip dan kegirangan, karena buku yang dinanti-nanti akhirnya terbit juga. :D
Langsung saya atur di lantai kamar Thia. Setelah beberapa jepretan foto, saya izinkan Thia untuk membuka bungkus paketnya. Tapi, tetap saya tahan untuk membuka plastik pembungkus buku-buku yang diincarnya. Harus diabadikin dulu dalam keadaan lengkap, dong! Hahaha ....

Kembali setelah beberapa kali jepretan foto, baru, deh, saya persilakan Thia untuk membuka 2 buku yang sejak awal jadi target utama. Enggak pakai menunggu lama, Thia langsung membuka plastik-plastik pembungkusnya. :D

Nah, apa saja, sih, isi paket sebanyak itu?
Ini dia!


Ada 2 buku terbaru karya Thia, yaitu COOKIDZ Sweety Pastello Macaron dan TRAVELA None Ondel-Ondel. Juga buku KKPK Little Ballerina Goes to Italy yang cetak ulang ke-7.
Selebihnya adalah buku-buku editan saya.

Alhamdulillah, rasanya luar biasa mendapat paket sebanyak itu. Apalagi isinya adalah karya-karya kami berdua, Thia dan saya. Pokoknya, senang ... senang ... senang luar biasa. ^_^


Minggu, 31 Agustus 2014

Cetak Ulang Ke-8 KKPK Let's Sing With Me Karya Thia


Dua hari yang lalu, Jumat, 29 Agustus 2014, kembali kami mendapat paket dari Penerbit Mizan. Kali ini paket tersebut saya dapati sudah berada di teras rumah. Sepertinya dilempar ke dalam oleh kurir pembawa paketnya. Ya, memang, hari itu seharian saya tidak berada di rumah. Setelah mengantar Thia ke sekolahnya di SMP Labschool Jakarta, saya mengantar AriqArza ke sekolah mereka di SDI At-Taqwa Rawamangun. Saya parkir di sana dan tidak langsung pulang, karena ada pertemuan orangtua kelas 5 (kelasnya Ariq) dengan pimpinan sekolah dan guru-guru. Selesai rapat, saya menunggu sebentar di dalam mobil, di parkiran sekolah, sambil ketak-ketik. Setelah itu, saya menuju rumah makan Kedai Locale yang tidak jauh dari sekolah untuk silaturahim sekaligus arisan dengan ibu-ibu SMP Labschool eks kelas 8E (kelasnya Thia sebelum naik ke kelas 9A). Wuiiih ... padat, kan? :D

Kembali ke paket tadi. Tanpa menunggu lama, karena sudah penasaran dengan isinya, saya langsung membuka bungkusannya. Alhamdulillah, KKPK Let's Sing With Me karya Thia memasuki cetakan ke-8. Fantastis! Semoga akan terus cetak ulang. Begitu juga dengan buku-buku karya Thia lainnya. Aamiin. ^_^

Bukti Terbit Komik KKPK Thia dan Cetak Ulang Komik KKPK Saya


Sabtu, 25 Agustus 2014, kembali rumah kami didatangi oleh kurir pembawa paket. Sama seperti sebelum-sebelumnya, paketnya dari Penerbit Mizan dan sudah pasti berupa buku-buku. Kali ini buku apa, ya? Selalu, setiap memegang paket buku yang saya terima, saya terlebih dahulu mengira-ngira judul buku di dalamnya. Sebelum akhirnya rasa penasaran mengalahkan saya untuk berlama-lama menebaknya, segera saja saya buka bungkusnya.

Dalam paket itu ada 3 buku dari Muffin Graphic, lini komik Penerbit Mizan yang mengeluarkan seri Komik KKPK. Saya menerima 2 buku bukti terbit Komik KKPK Next-G Teka-Teki Rumah Hantu karya Thia dan 1 buku bukti cetak ulang Komik KKPK Next-G New Look of Alika karya saya. Tentu saja semuanya itu bukan karya kami sendiri. Ada beberapa teman penulis cilik lainnya yang menyumbang naskah cerpen, kemudian beberapa komikus mewujudkan ide dan ceritanya menjadi komik.

Untuk buku Thia itu, saya dan Thia sempat bingung. Karena sudah lama Thia tidak mengirimkan naskah cerpen untuk Komik KKPK. Terakhir, hampir setahun yang lalu Thia mengirimkan naskah cerpen untuk Komik Fantasteen dan belum tahu kapan terbitnya. Setelah saya buka bungkus plastik salah satu bukunya, ternyata itu adalah karya lama Thia di Komik KKPK Next-G yang kemudian diterbitkan kembali. Tapi kali ini, cerita Thia yang dijadikan cerita utama dan jadi judul covernya. Alhamdulillah, ternyata karya lama Thia masih digemari sehingga dipilih untuk diterbitkan kembali. Terima kasih Komik KKPK. Terima kasih Muffin Graphic. ^_^

Bukti Terbit KKPK Lovely Lovy Karya Thia


Rabu, 19 Agustus 2014, saat saya baru tiba di rumah sepulang mengantar sekolah ThiaAriqArza, datang satu paket atas nama Thia. Tumben saya ingat tanggalnya, ya? Ya, iyalah ingat! Barusan, kan, saya lihat postingan Thia tentang ini. Diposting sore hari di Facebook Thia. Hihihi ....

Terus, apa, sih, isi paketnya? Hm, waktu itu, sesuai perkiraan saya, sih, bukti terbit buku terbaru Thia. Tapi, saya tetap berharap ada buku editan saya yang nyelip di sana. Maklum, Mbak Windu, sekretaris DAR! Mizan selalu menyatukan kiriman untuk kami berdua. :D

Benar! Taraaa ... 5 buku bukti terbit KKPK Lovely Lovy karya Thia yang ada di dalam paket tersebut. Buku editan saya? Enggak ada satu pun, tuh! Hahaha ... enggak apa-apa. Mungkin nanti digabung dengan editan yang lainnya. Soalnya Mbak Windu pernah bilang, kalau buku bukti terbit editan saya itu dikumpulkan dulu yang banyak, baru dikirim.

Alhamdulillah, sekali lagi. Selamat untuk putri cantikku ... Muthia Fadhila Khairunnisa. Tetap menulis ya, Sayang. Seperti katamu selalu ... Hwaiting! ^_^

Cetak Ulang KKPK Little Ballerina Thia dan Editan Saya


Awal Agustus, pulang dari mudik lebaran, datang kegembiraan baru lagi ... paket buku dari Penerbit Mizan. Bagi kami, setiap kali paket buku datang, baik berupa bukti terbit buku baru Thia atau saya, bukti terbit cetak ulang buku Thia atau saya, maupun bukti terbit buku editan saya merupakan berita yang senantiasa mendatangkan kegembiraan. Semoga kegembiraan ini terus, terus, dan terus terjadi. Aamiin. ^_^

Nah, kegembiraan dari paket yang kami terima kali ini berisi beberapa buku untuk Thia dan saya, berupa:
  • 3 buku cetak ulang ke-9 buku KKPK Little Ballerina karya Thia
  • 3 buku cetak ulang ke-4 buku KKPK Little Ballerina 3 Singapore Championship karya Thia
  • 1 buku bukti terbit editan saya KKPK The Winter Roses
  • 1 buku bukti terbit editan saya KKPK Travela The Kingdom of Butterfly
  • 1 buku bukti terbit editan saya KKPK Cookidz The Chocolate Cake Balls Paranoia
Alhamdulillah, ucapan syukur senantiasa kami panjatkan untuk Maha Pemberi Kebahagiaan. ^_^

Bukti Cetak Ulang Ke-3 Fantasteen Thia dan Editan Saya


Saat akan berangkat mudik lebaran ke rumah orangtua saya bulan lalu, datang paket dari Penerbit Mizan. Wah, untung saja kami sekeluarga belum pergi. Jadi masih bisa mengetahui dan menerima kegembiraan secara langsung, deh! Coba kalau kami sudah pergi? Kan, paketnya baru bisa kami terima pas kami balik dari mudik. Otomatis kegembiraannya tertunda. Eh, tapi tetap saja, sih, catatan kegembiraan ini tertunda lama sampai sebulan lebih. Hadeeeh ...! Hahaha ....

Seperti biasa, dari bentuk kemasannya, saya sudah menebak kalau isinya adalah buku. Sambil berpikir buku yang mana, tangan saya bergerak untuk menyobek kertas pembungkusnya. Wuiiih ... alhamdulillah. Isinya adalah 3 buku cetak ulang ke-3 Fantasteen Ghost Dormitory in Seoul karya Thia dan 1 buku bukti terbit editan saya. Langsung, deh, semangat mudik bertambah berkali-kali lipat. Senangnya. ^_^

Parsel Kue dan Kartu Lebaran dari Penerbit Mizan


Ah, cerita ini harusnya ditulis bulan lalu, karena peristiwanya udah bulan lalu. Sebulan lebih malah. Tapi ya gini ini, deh! Tetap dengan alasan yang sama: menunda. Ntar ... ntar ... ntar! Udah kayak nembakin peluru karet aja ke dinding. Bunyinya berisik, pelurunya pun mental hilang entah ke mana. Mesti dicari dulu sampai ketemu. Baru, deh, punya bekal buat nembakin lagi. Ntar ... ntar ... ntar! Begitu berulang kali. Terus, kapan nulisnya? Ya, baru sekarang ini. Ampun, dah! :D

Ya, ceritanya ... lebaran tahun ini, Thia dapat parsel lagi dari Penerbit Mizan. Kalau kartu lebaran, sih, udah pasti semua relasi dari Penerbit Mizan, termasuk penulis dan editor, dapat. Saya juga dapat kartu lebarannya. Bedanya sama Thia, saya cuma dapat kartu lebaran. Enggak dapat parselnya. Berarti, kan, prestasi Thia diakui lebih daripada saya oleh Penerbit Mizan. Hahaha ... enggak apa-apa. Malah senang, kok! Anak memang harus lebih baik daripada orangtuanya. Iya, kan? Benar, kan? Hihihi ... ngeles aja. :D

Nah, kalau tahun lalu Thia dapat parsel boneka, sekotak permen, dan sekotak cokelat, yang sedikit pun saya enggak cicip, karena semuanya diabisin Thia. Tahun ini, Thia dapat parsel tiga stoples kue kering. Wuiiih ... pucuk dicinta ulam tiba. Ini, nih, peribahasa yang artinya  secara suka-suka saya adalah ... rezeki banget, dah! Hahaha .... Masalahnya, tahun ini saya sama sekali enggak pesan kue lebaran. Soalnya kami sekeluarga mudik ke Tangerang, ke rumah orangtua saya untuk berlebaran bersama. Niatnya, sih, memang untuk menyerbu kue lebaran yang ada di sana. Hihihi .... Btw, jauh banget, ya, mudiknya? Saking jauhnya, kami sampai ditolak oleh jasa kereta api dan pesawat terbang. Karena kalau kami nekat menggunakannya, maka kami harus rela turun menggunakan parasut. Terjun bebaaas ...! :D

Oh, ya, waktu terima parsel dan kartu lebaran untuk Thia, saya sempat bingung. Ini yang kasih siapa, ya? Kalau tahun lalu, kan, Mbak Windu Darlina menjelaskan kalau Thia adalah salah satu penulis dari beberapa penulis terpilih karena prestasinya yang diapresiasi oleh lini anak untuk dikirimi parsel. Waktu itu saya manggut-manggut, karena usia Thia memang masih di KKPK. Kalau tahun ini, kan, Thia udah enggak di usia KKPK. Thia udah masuk usia lini remaja, di Pink Berry dan Fantasteen. Di lini remaja ini Thia baru berkarya satu buku Fantasteen. Tapi tebakan saya, sih, memang dari lini remaja. Karena enggak mungkin dari lini anak lagi. Untuk memastikannya, saya langsung bbm Mbak Windu. Nah benar, kan, tebakan saya. Alhamdulillah. Terima kasih buat Kak Benny Rhamdhany beserta seluruh staf di lini remaja yang telah mengapresiasi Thia sedemikian besar. Alhamdulillah. :)


Rabu, 02 Juli 2014

Cetak Ulang Ke-7 Buku Thia dan Editan Saya


Di tengah kegembiraan, kesedihan, sekaligus kelelahan, alhamdulillah datang satu kegembiraan lagi. Ya, kegembiraan karena telah mengkhitan Ariq, Arza, dan Rafi (anak adik saya yang ikut dikhitan) pada Sabtu pagi, 28 Juni 2014, ternyata diikuti kesedihan. Malam harinya, papa saya harus dilarikan ke rumah sakit akibat kejang-kejang. Hal ini menyebabkan kelelahan fisik bagi saya, karena harus mondar-mandir mengurus semuanya. Tetapi saya tidak sendirian, ada mama dan kedua adik saya yang senantiasa siap membantu.

Rasa lelah saya sedikit berkurang, ketika Senin siang, 30 Juni 2014, datang kiriman paket dari penerbit Mizan, berupa 3 buku bukti cetak ulang ke-7 KKPK Let's Sing With Me karya Thia dan KKPK Annabelle School Holiday editan saya. KKPK Let's Sing With Me ini pertama kali diterbitkan sekitar akhir April 2013. Berarti sudah 14 bulan berada di toko buku. Senang rasanya, seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Semoga karya Thia ini terus diminati anak-anak Indonesia dan terus terpajang di rak buku anak. Aamiin.

Oh, ya, alhamdulillah papa saya juga sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit siang ini. Lega rasanya. Hari ini, saya hanya pengin beristirahat sejenak, sebelum besok Kamis, 3 Juli 2014, mengantar Ariq, Arza, dan Rafi kontrol hasil khitannya di Rumah Sunatan. ^_^

Rabu, 18 Juni 2014

Empat Buku Editan Saya dan Satu Buku Cetak Ulang Karya Saya


Alhamdulillah, kali ini saya mendapat paket yang isinya karya saya semua. Terdiri dari 3 buku KKPK dan 1 buku KKPK Travela editan saya, plus 1 buku cetak ulang Komik KKPK karya saya bersama penulis-penulis cilik dan para komikus hebat.

Judul-judulnya yaitu:
1. KKPK Ilmuwan Matematika Cilik
2. KKPK The Miracle of Saman Dance
3. KKPK The Problem Solver
4. KKPK Travela Holiday in Madura
5. Komik KKPK Trouble in Paris 2

Oh, ya, paket ini sempat kembali ke Penerbit Mizan, lho! Mbak Windu (sekretaris redaksi DAR! Mizan) yang mengabarkan kepada saya via BBM. Mbak Windu kaget, karena selama ini kalau mengirim paket ke rumah saya selalu sampai. Baru kali ini paketnya kembali dengan catatan tiga kali diantar ke rumah saya dan rumah kosong.

Nah, saya juga heran. Biasanya kalau saya tidak ada di rumah, paketnya selalu dititipkan ke tetangga. Ini sampai tiga kali antar, kok, pengantar paketnya tidak ada inisiatif buat titip ke tetangga, ya? Tapi memang, waktu itu, selama seminggu, sehabis mengantar ThiaAriqArza sekolah, saya tidak langsung pulang. Tanggung waktunya, karena Ariq dan Arza sedang UKK dan pulang cepat. Jadi, saya memilih untuk menunggu di Dunkin Donut's sambil bekerja mengedit naskah. Akhirnya, Mbak Windu bilang akan mengirimkannya lagi sambil menunggu bukti terbit editan saya yang lain. Jadi, mesti sabar. :D

Kalau yang pertama kali kirim, Mbak Windu menggunakan jasa Pos Indonesia. Pas kirim kedua kalinya, pakai JNE. Padahal selama ini, pakai jasa pengiriman apa pun pasti sampai. Sepertinya, pegawai Pos Indonesia yang mengantar paketnya ganti, nih! Tapi, yang penting paketnya sudah saya terima.  ^_^

Dapat Tanda Tangan dan Karikatur dari Penulis Komik The Muslim Show


Alhamdulillah, saya tidak menyangka bisa mendapat tanda tangan dan gambar karikatur dari Greg Blondin. Dia adalah salah satu penulis komik The Muslim Show. Wuih, sudah pasti senang, dong! :D

Ceritanya begini ....
Sekitar awal Mei 2014, Mbak Tiara (promosi di Penerbit Mizan) menghubungi saya. Mbak Tiara memberitahukan, kalau Mizan akan mengadakan acara THEATRE dan meminta Thia untuk menjadi panitia di acara tersebut. Tapi, beberapa hari kemudian, Mbak Tiara menghubungi saya dan meralatnya. Thia malah diminta untuk menjadi pesertanya. Kebetulan memang acaranya untuk anak-anak dan remaja usia 9-18 tahun.

Awalnya Thia antusias begitu saya beritahu diminta jadi panitia. Tapi, saat dibatalkan dan saya tawarkan untuk ikut jadi peserta, Thia ragu. Alasannya, teman-teman penulis remaja yang akrab dengannya tidak ada yang ikut.

Keesokan harinya, saya dihubungi oleh Mbak Yuliati (mamanya Shara, salah satu penulis remaja sahabat Thia). Beliau menanyakan keikutsertaan Thia untuk ikut Theatre. Saya bilang, Thia masih belum pasti, antara mau dan tidak, karena tidak ada temannya. Ternyata menurut Mbak Yuliati, Shara pun sama dengan Thia. Shara mau ikut, tapi ragu karena tidak ada temannya. Wah, kebetulan jadinya! Kami sepakat untuk mendaftarkan Thia dan Shara. Pas saya beritahu, Thia senang, karena akhirnya punya teman. Saya pun langsung menghubungi Mbak Tiara untuk mendaftarkan Thia.

Tapi, rencana tinggal rencana. Theatre berlangsung tanggal 29 Mei hingga 1 Juni. Tiba-tiba, waktu pulang sekolah, Thia memberitahukan kalau pentas drama yang merupakan kegiatan wajib kelas 8 diadakan tanggal 23 Mei dan 30 Mei. Kelas Thia mendapat giliran pentas tanggal 30 Mei. Jadilah Thia mengundurkan diri, tidak jadi ikut. Saya langsung memberitahukan hal ini kepada Mbak Yuliati. Ternyata Shara juga harus mengundurkan diri, karena akan mengikuti perlombaan tari Saman.

Kembali saya menghubungi Mbak Tiara untuk memberitahukan tentang pengunduran diri Thia. Waktu itu Mbak Tiara merayu agar Thia tetap ikut. Katanya akan ada yang spesial dari acara Theater, yaitu kedatangan tiga komikus asal Prancis yang menulis komik The Muslim Show. Mereka adalah Noredine Allam, Greg Blondin, dan Karim Allam. Yah, mau gimana lagi? Saya kan, cuma bagian antar jemput. Sementara Thia tidak jadi ikut. :D

Seperti biasa, setiap sore, saya menyempatkan diri untuk membuka Twitter. Saya biasa me-retweet tweet Thia yang promo buku-bukunya. Saat itu, di timelines Twitter ada tweet dari @DAR_Mizan tentang kegiatan pelatihan membuat komik dari tiga komikus Prancis. Saya langsung melihat penanggalan. Wah, kegiatan Teather sedang berlangsung!

Eh, tiba-tiba saja, saya kepengin punya buku-buku karya mereka yang ditandatangani dan digambari karikatur wajah saya dan Thia. Buru-buru saya menghubungi Mbak Tiara via BBM, mau titip. Tapi Mbak Tiara sepertinya sangat sibuk. BBM saya baru dibalas keesokan harinya. Terlambat, ketiga komikus asal Prancis itu sudah ke Jakarta untuk hadir di acara Islamic Book Fair (IBF) di Istora Senayan. Mbak Tiara menganjurkan untuk datang ke sana. Waduh, saat itu saya sedang ada acara keluarga. Tidak keburu kalau harus mengejar mereka.

Ya, sudah, berarti bukan rezeki saya. Tapi, rasanya, saya belum puas kalau belum usaha maksimal. Saya kembali menghubungi Mbak Tiara, menanyakan kira-kira siapa yang bisa dimintai tolong di sana. Mbak Tiara memberikan nomor PIN BBM Mas Angga. Duh, saya memang pernah ketemu Mas Angga, tapi meng-invite BBM-nya dan langsung minta tolong, kok, ya rasanya gimana gitu. Saya sempat ragu. Tapi, akhirnya nekat. :D

Alhamdulillah, Mas Angga mau membantu. Saya langsung mengirimkan foto saya dan Thia untuk panduan membuat karikaturnya. Wah, terima kasih banyak, deh, sama Mas Angga. Baik banget! ^_^

Beberapa hari kemudian, saya mendapat paket dari Penerbit Mizan. Saya kaget, karena isinya dua buku komik The Muslim Show. Soalnya, saya sempat mengira itu buku-buku editan saya atau buku-buku cetak ulang karya Thia. Saya tidak berpikir secepat itu bisa melihat kedua buku komik yang saya inginkan. Gambar karikaturnya lucu. Saya dan Thia sangat suka. Tapi, yang lebih membuat saya kaget, di sana terselip selembar surat yang memberitahukan kalau kedua buku tersebut dihadiahkan kepada Thia. Padahal, saya bilang sama Mbak Tiara kalau saya membelinya dan akan menggantinya berikut ongkos kirim.

Saya langsung menghubungi Mas Angga dan Mbak Tiara untuk mengucapkan terima kasih. Mbak Tiara bilang, sengaja buku itu dihadiahkan karena beberapa kali Thia sudah mau menjadi pembicara di acara roadshow KKPK. Wah, sekali lagi, terima kasih. Pas banget mau Ramadhan. Buku ini bisa jadi teman penghibur saat menunggu berbuka puasa. Senangnyaaa .... ^_^

Kamis, 29 Mei 2014

Bukti Terbit Buku Saya, Cetak Ulang Buku Thia, dan 3 SPP Buku Terbaru Thia


Di akhir Mei ini, kembali saya menerima paket dari Penerbit Mizan. Sebenarnya ada dua paket. Yang pertama dari Muffin Graphics, berisi bukti terbit buku terbaru saya, yaitu New Look of Alika. Judul cerita saya di buku ini adalah Pesta Topeng. Yang kedua dari DAR! Mizan, berisi bukti cetak ulang ke-6 KKPK karya Thia yang berjudul Little Ballerina 2 Goes to Italy.

Tidak hanya itu, saya juga menerima surat dari DAR! Mizan. Amplopnya sangat tebal. Apa, ya, isinya? Ternyata ... 3 SPP (Surat Perjanjian Penerbitan) masing-masing rangkap dua karya Thia. Alhamdulillah, sisa-sisa karya Thia saat masih di usia menulis KKPK masih ada.
Judulnya yaitu:
1. KKPK Lovely Lovy
2. KKPK Cookidz Sweety Pastelo Macaron
3. KKPK Travela None Ondel-Ondel

Semoga segera terbit dan beredar di toko-toko buku. Aamiin. ^_^

Bukti Terbit Buku Saya dan Cetak Ulang Buku Thia


Paket kali ini berisi bukti cetak ulang ke-2 Komik Fantasteen Teror si Belang karya Thia. Selain itu ada juga bukti terbit buku saya.

Ya, setelah terbit tiga buku Komik KKPK Next-G yang terselip karya saya, kini saya menerima bukti terbit untuk buku yang ke-4. Judulnya diambil dari cerita salah satu penulis cilik, yaitu My Salon My Star. Cerita saya sendiri berjudul Mobil Melayang, yang kemudian dibuatkan komiknya oleh Romy Hernadi.

Sudah pasti saya senang, karena di antara teman-teman penulis, saya termasuk kurang produktif. Tidak bisa dipungkiri, kalau hampir dua tahun ini saya kebanyakan mengedit KKPK ketimbang menulis. Ide cerita selalu ada, cuma waktu untuk menuangkannya yang sangat terbatas. Sehari-hari, saya didera rasa lelah dengan rutinitas harian sebagai ibu rumah tangga. Entahlah, mungkin saya beralasan. Tapi saya hanya berusaha selalu sehat agar aktivitas anak-anak yang sangat bergantung kepada saya tidak terganggu. Akibatnya, saya lebih mementingkan untuk tidur daripada menulis. Hadeeeh .... >.<

Nah, salah satu rutinitas saya adalah menyetir. Sungguh, buat saya, menyetir itu suatu pekerjaan yang sangat melelahkan. Sementara itu, menyetir sudah harus jadi tugas saya selama hampir tiga tahun ini. Mungkin, untuk orang lain, menyetir itu menyenangkan. Tapi buat saya, begitu mobil sudah masuk garasi, terasa badan saya seperti remuk. Ah, tapi tetap harus semangat. Semoga lama-lama jadi terbiasa, walau tak tahu kapan. Yang jelas, semangat untuk menulis terus menyala. Yang terpenting lagi, aktivitas anak-anak lancar. ^_^


Cetak Ulang Buku Karya Thia, Best Sellers April 2014


Surprised, buku karya Thia yang berjudul Ghost Dormitory in Seoul menjadi best sellers di bulan April 2014. Berita ini diketahui Thia via Facebook Kak Benny Rhamdani. Begitu tau beritanya, Thia langsung lapor kepada saya. Thia girang bukan main, karena buku seri Fantasteen terbitan DAR! Mizan ini merupakan debut pertamanya di genre remaja.


Menyusul berita tersebut, datang paket bukti cetak ulang Ghost Dormitory in Seoul. Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari tiga bulan, sudah cetak ulang ke-2. Terhitung dari akhir Februari beredar di toko-toko buku dan awal Mei sudah mengalami cetak ulang.

Oh, ya, ada cerita di balik pengiriman paket ini. Pengirimnya ternyata bukan Mbak Windu Darlina, tapi penulis KKPK yang bernama Berliana. Di dalam paket juga terselip surat dari Berliana. Di surat itu dijelaskan kalau Mbak Windu salah kirim paket.
Olalaaa ... sepertinya Mbak Windu harus sudah mulai beristirahat menjelang kelahiran anak pertamanya. Dua kali salah kirim. Tetapi untungnya hanya salah kirim paket yang bisa langsung terselesaikan. Semoga Mbak Windu segera mendapat asisten yang bisa membantu, deh! Biar tenang saat cuti melahirkan. Aamiin. ^_^

Bukti Terbit Editan Saya dan Cetul Buku Thia


Alhamdulillah, sepanjang Mei berturut-turut datang kegembiraan. Di antaranya berupa kiriman paket dari Penerbit Mizan. Tentu saja berupa buku-buku bukti terbit karya saya, bukti terbit editan saya, bukti terbit karya Thia, bukti cetak ulang karya Thia, hingga SPP (Surat Perjanjian Penerbitan) buku karya Thia.

Paket pertama yang saya terima berisi bukti terbit editan saya dan bukti cetak ulang karya Thia. Ada dua editan saya, yaitu KKPK Rahasia Huruf T dan KKPK The Melody of Twin. Sementara buku-buku Thia yang cetak ulang adalah KKPK Little Ballerina (cetak ulang ke-8) dan KKPK Let's Sing With Me (cetak ulang ke-6).

Ada yang aneh pada saat saya melihat "Surat Tanda Terima" paket. Di sana tertulis KKPK Let's Sing With Me cetak ulang ke-6. Sementara di pertengahan Maret, buku tersebut sudah cetak ulang ke-6. Ceritanya ada di sini.

Nah, apa ada kesalahan tulis, ya? Bukankah harusnya cetak ulang ke-7?
Penasaran, saya langsung membuka sedikit plastik yang membungkus salah satu buku KKPK Let's Sing with Me. Saya intip katalog penerbitannya ... cetak ulang ke-6!
Berarti, Mbak Windu (sekretaris DAR! Mizan) mengirimkannya dua kali. Langsung saya konfirmasi. Ternyata benar, terkirim dua kali. Wah, jadinya dapat bonus 3 buku bukti terbit cetak ulang ke-6. Semoga saja segera cetak ulang yang ke-7. Aamiin. ^_^