Tampilkan postingan dengan label Tulisan Saya di Media Cetak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Saya di Media Cetak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 April 2014

[Tulisan Saya] Fitri dan Fitria

Cerita Bersambung

FITRI DAN FITRIA
Shinta Handini

# Bagian Pertama

“Mamaaa ... janji ya, aku dibelikan tiga baju baru!” Fitri merengek lagi.
Mama yang sedang sibuk bekerja di depan komputer hanya mengangguk.
“Pokoknya, aku mau baju seperti yang ada di majalah ini!” Fitri menunjukkan majalah yang berada di tangannya kepada mama. Di sana terbuka halaman yang menampilkan beberapa model yang memperagakan baju-baju indah.
Mama hanya melirik sebentar, kemudian kembali menekuri pekerjaannya.
Tidak berapa lama kemudian, kembali Fitri berteriak, “Sama sepatu yang kayak ini ya, Ma!” Tangannya menunjuk ke gambar yang ada di halaman berikutnya.
“Fitri, Mama sedang kerja, Sayang. Terserah, Fitri boleh beli baju dan sepatu apa saja. Tapi, sekarang biarkan Mama kerja dulu, yaaa ....” Mama yang merasa terganggu dengan ulah Fitri pun pindah ruangan ke taman belakang rumah.
“Uh, Mama ... kerja teruuus ...,” gerutu Fitri kesal. “Kapan, sih, punya waktu untuk aku? Sebel ... sebel ... sebeeel ...!” Fitri menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Bibirnya terlihat maju beberapa senti.
Fitri mengempaskan tubuhnya ke sofa. Kekesalannya terhadap mama ditumpahkan dengan memijat-mijat tombol remote control. Berkali-kali dia mengganti saluran televisi. Tapi, tidak ada tayangan yang cocok untuk dilihat.
Tiba-tiba, Fitri berteriak, “Bi Imaaas ... AC di ruang keluarga ini, kok, kurang dingin, sih?” Tangannya sibuk mengipas-ngipas leher dan mukanya.
Bi Imas yang mendengar teriakan majikan kecilnya tergopoh-gopoh muncul dari dapur.
“Ada apa, Non? Non Fitri memanggil saya?”
“Iya, Bi Imaaas .... Ini AC-nya, kenapa enggak terasa dingin?”
“AC-nya emang sudah waktunya diservis, Non. Bibi sudah memanggil tukang servis AC langganan. Tapi ternyata lagi sakit. Katanya, kalau sudah sehat, secepatnya akan ke rumah ini,” jelas Bi Imas.
“Kenapa enggak panggil tukang servis AC yang lain, sih, Bi?”
“Kasihan, Non. Tukang servis AC-nya sudah langganan sejak lama. Lagipula, anaknya banyak. Lumayan ongkos servisnya jadi rezeki anak-anak dan istrinya.”
“Ah, Bibiii ...!”
Dengan kesal Fitri masuk ke kamarnya. Dia melirik ke arah jam dinding. Pukul dua siang. Matahari di luar sedang tidak bersahabat. Fitri menyalakan AC, kemudian menuju rak buku di sudut kamarnya. Beberapa majalah diambil. Untuk beberapa saat lamanya, Fitri tenggelam dalam bacaan. Setelah itu, Fitri mulai kembali bosan.
Fitri menyalakan komputer. Dia mulai berselancar di dunia maya. Klik sana, klik sini, melihat berbagai macam berita. Akhirnya, dia membuka akun Facebook-nya.
Fitri menulis status.
Bosan ... bosan ... bosaaaaan ...!
Tidak beberapa lama, komentar-komentar dan lambang jempol tanda suka dengan status tersebut, bermunculan.
Kenapa, Fit? Main ke rumahku aja, yuk! Aku punya games barus, nih!
Jiaaah ... segalanya ada, kok, bosan? Tukeran tempat, mau, enggak?
Kalau bosan di bumi, coba pergi ke Mars.
Jalan-jalan ke mal, yuk! Temenin aku beli baju baru buat ke pesta pernikahan tanteku.
Dalam sekejab, belasan komentar menghiasi kolom di status Facebook Fitri. Tak ada sedikit pun niat di hati Fitri untuk membalasnya. Tiba-tiba, ada satu komentar yang menarik perhatiannya.
***

# Bagian Kedua
 
Hari ini aku dan keluargaku mau berkunjung ke panti asuhan. Mau ikut, enggak? Kalau mau, kutunggu di rumahku sekarang juga. Rencananya, kami mau makan malam bersama di sana.
Fitri melirik nama penulis komentar tersebut. Davina. Teman sekelas Fitri. Rumahnya hanya beda satu blok dari rumah Fitri.
Fitri membalas komentar Davina.
Davina, aku mauuu .... Tunggu, ya! Aku izin sama mamaku dulu. Kayaknya, sih, dibolehin. Soalnya mamaku juga lagi sibuk.
Davina membalasnya.
Oke! Aku tunggu. Cepetan!
Fitri menutup akun Facebook-nya dan mematikan komputer. Dia segera menuju taman belakang rumah, di mana mamanya berada.
“Mamaaa ... aku mau ikut sama Davina, yaaa .... Mau ke panti asuhan sama keluarganya. Mereka mau makan malam bersama di sana.”
Mama yang sedang serius bekerja, terkejut.
“Lho? Kok, tiba-tiba? Nanti, Mama makan malam sama siapa kalau kamu pergi? Papa, kan, lagi dinas ke luar kota.”
“Aku bosan, Ma. Mama kerja terus,” rajuk Fitri. “Boleh ya, aku ikut ke panti asuhan sama Davina dan keluarganya.”
Mama terdiam sejenak.
“Hm, begini saja. Pekerjaan Mama sebentar lagi beres. Gimana kalau Mama ikut juga? Kamu coba hubungi Davina dan keluarganya. Tanya alamat panti asuhannya. Nanti, kita menyusul ke sana.”
“Benar, Ma? Mama mau ikut juga?”
Mama tersenyum dan mengangguk. Fitri melonjak kegirangan.
“Iya, tapi kasih Mama waktu buat menyelesaikan pekerjaan Mama dulu sebentar.”
“Horeee ... makasih ya, Ma!” Fitri mencium pipi mamanya sekilas, sebelum kemudian berlari menuju ruang keluarga untuk menelepon Davina. Mama hanya geleng-geleng saja melihat tingkah Fitri.
Mama menghentikan mobil di depan sebuah rumah besar bercat putih. Sebenarnya, warna cat rumah itu sudah tidak putih lagi. Lebih terlihat berwarna kecokelatan karena sudah kusam.
“Benar ini tempatnya, Ma?” Fitri melihat ke sekelilingnya dengan tidak yakin.
“Iya. Itu, lihat saja papan nama di depan rumah itu!”
Fitri membaca tulisan yang ditunjuk mamanya. PANTI ASUHAN AZHAR. Fitri tertegun.
“Kok, malah bengong?” tegur mama. “Yuk, kita turun!”
Dengan ragu-ragu Fitri mengikuti mamanya turun dan masuk ke bangunan rumah panti asuhan.
“Fitri ...!” panggil Davina. “Senangnya kamu dan mamamu bisa bergabung bersama kami.”
Fitri tersenyum memandang Davina yang menyambutnya dengan riang. Davina mencium tangan mama Fitri dan mengajak keduanya masuk ke dalam rumah.
“Ini, kenalkan ... Bu Nadia, ibu dari teman-teman panti asuhan di sini.”
Bu Nadia mengangguk dan tersenyum kepada Fitri dan mamanya, seraya mengulurkan tangan.
“Nah, ini dia teman-teman panti asuhan yang tinggal di sini. Ini Farah, Mita, Dinda, Raras, Kinanti, Dewi, Dita ....”
Fitri takjub. Davina hafal nama-nama mereka semua.
“Nah, sekarang kita main dulu, yuk!” ajak Davina.
Fitri dan teman-teman di panti asuhan mengikuti langkah Davina ke halaman belakang. Fitri memerhatikan, semua tampak gembira, tidak ada yang bersedih.
Eh, tapi ... siapa itu yang menyendiri di sudut dekat pohon mangga? Fitri berjalan mendekati anak tersebut.
***

# Bagian Ketiga

“Kamu kenapa di sini sendirian? Engak ikut main?”
Anak itu tidak menjawab. Hanya menggeleng.
“Namaku Fitri. Namamu siapa?” Fitri mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
Dengan ragu-ragu anak itu menyambut uluran tangan Fitri.
“Fitria.”
Fitri terkejut, “Fitria? Wah, nama kita hampir sama!”
Anak itu mengangguk.
“Ah, kenapa kamu menyendiri, Fitria?”
“Aku kangen sama ibuku. Aku baru seminggu di sini. Aku dibawa ke sini karena sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ibuku baru saja meninggal tertabrak mobil waktu berangkat bekerja. Ibuku bekerja jadi pelayan di rumah makan.” Fitria mulai menangis.
Fitri memeluk tubuh Fitria. Dia ikut merasakan kesedihan yang dialami Fitria. Fitri jadi ingat akan mama. Betapa beruntungnya dia dibanding Fitria.
Di kejauhan, mama melihat semua yang dilakukan Fitri. Mama menyusut air mata yang menetes di sudut matanya.
“Mama ... mana baju-baju baru pesananku?” Fitri langsung menyerbu ketika melihat mama turun dari mobil.
“Ada! Semua baju-baju itu ada di bagasi mobil. Yuk, bantu Mama membawanya masuk ke rumah!”
“Horeee .... makasih ya, Ma!” Fitri melonjak kegirangan. “Fitria ... bantu aku yaaa .... Ini buat teman-teman di panti asuhan.”
Fitria muncul dari dalam rumah sambil berlari-lari kecil. Dengan cekatan dia membantu Fitri menurunkan barang-barang dari bagasi mobil. Mama tersenyum melihat keduanya.
“Ulang tahunku kali ini istimewa banget, ya, Ma. Aku senang, deh!” Fitri menghampiri mama yang sedang ikut menghitung jumlah barang-barang yang sudah diturunkan.
Mama tersenyum, “Iya, Sayang.”
“Apalagi sekarang ada Fitria yang tinggal bersama kita. Aku jadi enggak kesepian lagi kalau Mama dan Papa kerja.”
Mama mengusap-usap kepala Fitri dengan sayang.
“Hari ini kita ke panti asuhan lagi, kan, Ma?” Fitri menoleh ke arah mama. Mama mengangguk seraya tersenyum. “Besok, pas acara syukuran ulang tahunku, teman-teman di panti asuhan bisa pakai baju baru ini.”
“Lalu, kamu sendiri pakai baju apa, Sayang?”
“Baju-bajuku masih banyak yang bagus, Ma. Bahkan ada beberapa yang baru sekali dipakai,” jawab Fitri. “Eh, iya, Mama tidak lupa membeli baju baru untuk Fitria, kan?”
“Tentu saja, Sayang. Coba, lihat ini!” Mama mengeluarkan satu bungkusan besar yang masih belum dikeluarkan dari mobil.
“Wah, Fitria ... itu bajumu. Ayo, dibuka!”
“Terima kasih, Ma.” Fitria berjalan mendekati mama dan membuka bungkusan yang disodorkan mama.
“Loh, kok, bajunya ada dua, Ma? Sama modelnya.” Fitria meneliti kedua baju yang ada di tangannya. “Hanya ... warnanya saja yang berbeda. Satu warna biru dan satu warna hijau.”
“Iya, itu memang baju untuk kalian berdua. Untuk kedua anak Mama yang cantik dan baik.”
“Untukku juga, Ma?” Fitri terkejut. “Mama baik sekali. Terima kasih, Mamaku Sayang.” Fitri mengecup kedua pipi mamanya.
Mama tertawa senang. Dipeluknya keduanya. Fitri dan Fitria membalas pelukan mama.
“Yuk, sekarang kita bersiap ke panti asuhan,” ajak mama. “Besok, kita berkunjung ke sana lagi untuk pesta sederhana syukuran ulang tahun Fitri.”
“Asyiiik ...!” sorak Fitri dan Fitria. Mereka mengikuti mama memasukkan baju-baju baru untuk teman-teman di panti asuhan ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan menuju panti asuhan, Fitri tersenyum bahagia. Fitri gembira menyambut ulang tahunnya esok hari. Ulang tahunnya kali ini menjadi ulang tahun yang terindah untuknya.
***

Dimuat di KORAN BERANI
17-23 Maret 2014 / Tahun VIII / No.11
24-30 Maret 2014 / Tahun VIII / No.12
31 Maret - 6 April 2014 / Tahun VIII / No.13

Selasa, 26 Februari 2013

[Tulisan Saya] Sepatu Pinokio

Cerita Bersambung


SEPATU PINOKIO
Shinta Handini


# Bagian ke-1

Minggu pagi yang cerah. Hari ini Mama membuat sarapan istimewa, nasi goreng dengan sosis dan telur. Ditambah irisan mentimun dan tomat segar. Mama juga membuat milkshake cokelat.
Sandra yang baru selesai bermain sepeda keliling kompleks langsung menuju dapur. Harum masakan Mama menggelitik hidungnya.
“Wah, sarapan yang hebat!” Tangan Sandra bergerak untuk mencomot potongan sosis.
“Eh, sudah cuci tangan belum, Sayang?” tegur Mama.
“Hehehe ... lupa, Ma.” Potongan sosis yang sudah diincar Sandra tidak jadi diambilnya.
Mama menggeleng-gelengkan kepala seraya matanya melihat ke arah wastafel. Dengan tersenyum malu Sandra segera mencuci tangannya.
“Sudah, Ma!”
“Pintar!” puji Mama. “Ayo, sekarang habiskan sarapanmu, setelah itu kita ke rumah Nenek.”
Sandra yang gembira dan bersiap melahap sarapan paginya langsung cemberut.
“Mama ... aku enggak mau ke rumah Nenek. Pokoknya enggak mau!” protes Sandra.
“Lho, kenapa, Sandra? Nenek pasti sedih kalau kamu enggak ke rumahnya. Apalagi kamu kan, cucu kesayangan nenek.”
“Aku sebal! Nenek selalu kasih aku bakiak. Aku jadi diledekin sama teman-teman. Kata mereka,’Ih, Sandra pakai sepatu Pinokio. Sepatu kayu.’ Gitu, Maaa ....” Sandra manyun (shinta banget hihihihi). Mulutnya maju beberapa senti.
Mama yang melihat ekspresi Sandra jadi tertawa.
“Biar saja, Sandra. Lama-lama, teman-temanmu akan bosan meledek.” Mama menasihati Sandra. “Mereka itu sebenarnya kagum dengan bakiak buatan nenekmu. Zaman sekarang, susah lho, mencari bakiak seperti itu. Apalagi, buatannya halus. Nenekmu juga menghias bakiak itu dengan lukisan tangannya. Jadi terlihat indah dan modis.”
“Ih, Mama tau apa tentang modis? Bagaimanapun juga, pakai bakiak itu enggak modis, Ma. Kuno!” gerutu Sandra. “Benar kata teman-teman, bakiak itu sepatunya Pinokio.”
“Hm, coba Mama lihat. Mana bakiak pemberian nenek?”
“Enggak mauuu .... Sandra enggak mau pakai. Sandra enggak mau jadi Pinokio yang pakai sepatu kayu.”
Sandra berlari masuk ke dalam kamarnya. Mama hanya menggeleng-geleng saja melihat tingkahnya.
***

# Bagian ke-2

“Kamu sudah beli majalah Cantika yang terbaru?” Nina memperlihatkan sebuah majalah edisi terbaru kepada Sandra.
“Eh, belum. Kamu sudah beli aja. Lihat, dong!” Sandra mengambil majalah itu dari tangan Nina.
“Coba kamu lihat model bajunya. Keren! Modis banget. Aku pengin, deh, punya baju seperti itu.”
Sandra membuka halaman mode yang ditunjuk Nina.
“Wow, keren! Baju model kayak begini memang lagi nge-trend. Simple dan kelihatan kasual.”
“Coba kamu lihat aksesorinya,” tunjuk Nina. “Enggak macam-macam juga, kan? Cuma jepit atau bando sederhana.”
“Iya. Betul banget!” Sandra mengangguk setuju. “Tapi, alas kakinya. Coba, lihat! Ini kan ....” Sandra membaca keterangan yang tertulis di halaman model tersebut. “Model ini memakai kelom. Alas kakinya namanya kelom. Kok, seperti ... bakiak, ya?”
“Coba aku lihat!” pinta Nina.
Sandra menyerahkan majalah Cantika dengan halaman mode yang tetap terbuka. Nina memperhatikan alas kaki yang dipakai oleh modelnya.
“Hm, beda, dong! Di sini jelas-jelas kalau yang dipakai oleh modelnya namanya kelom, bukan bakiak. Lihat saja! Kelomnya warna-warni dan berhiaskan lukisan bunga-bunga yang cantik. Walau sama-sama terbuat dari kayu, tapi ini bukan bakiak. Kalau bakiak, kan, kuno. Cuma alas kaki kayu yang diberi penutup hitam dari karet. Terus biasanya dipakai sama nenek-nenek buat ke pasar. Kalau kita yang pakai, enggak banget, deh, pokoknya! Bakiak itu sepatunya Pinokio. Ga modis!” kata Nina panjang lebar.
“Tapi ... bakiakku seperti ini, kok! Nenekku yang buat. Seperti yang aku ceritakan waktu itu,” ucap Sandra.
“Ah, kalau bakiak, mah, tetap aja namanya bakiak. Sepatu Pinokio. Bakiak itu beda sama kelom.” Nina tetap pada pendiriannya.
Sandra tercenung. Dia tetap merasa kalau bakiak buatan neneknya itu, ya kelom itu. Memang, sih, selama ini nenek kalau membuat bakiak seperti yang dibilang oleh Nina. Cuma alas kayu yang diberi penutup hitam dari karet. Tapi khusus untuk Sandra, penutupnya berwarna biru cerah yang dilukis gambar bunga-bunga kecil warna kuning. Dalam hati Sandra sebenarnya mengakui, kalau bakiak buatan nenek khusus untuk dirinya itu cantik sekali. Tapi waktu Sandra cerita kepada Nina dan beberapa teman perempuan lainnya, mereka tidak percaya. Mereka malah mengejeknya kalau bakiak itu sepatu Pinokio. Sandra jadi malu dan tidak mau memakainya.
Teng ... teng ... teng .... Bel sekolah berbunyi.
“Masuk, yuk! Sudah bel, tuh!” ajak Nina. “Nanti pas istirahat kita kasih tau ke teman-teman lain.”
“Yuk!” sambutnya. “Sepertinya besok aku akan bawa bakiak buatan nenekku yang aku ceritakan itu.” Sandra menggumam sendiri.
Nina tidak mendengar. Gumaman Sandra tenggelam di antara keriuhan teman-teman yang masuk kelas. Mereka pun kemudian berbaur dengan teman-teman lain di dalam kelas. Siap untuk menerima pelajaran hari ini.
***

# Bagian ke-3

“Wah, keren! Ini mirip seperti yang ada di majalah Cantika yang kemarin dibawa sama Nina!” seru Gea takjub.
“Iya, keren banget! Hebat kamu sudah punya,” ujar Risma.
“Pasti kamu belinya mahal, ya?” tanya Nina ikutan takjub.
Sandra senyum-senyum mendengar rentetan pujian dan pertanyaan dari teman-temannya.
“Ah, enggak! Ini gratis, kok!” jawab Sandra.
“Gratis?” Nina, Gea dan Risma serentak kaget.
“Iya, gratis!” jawab Sandra senang. “Bagus, kan?”
“Iya, bagus!” puji Nina.
“Salah ... salah! Enggak bagus lagi, Nin. Tapi bagus banget!” ujar Gea.
“Benar! Bagus banget! Kamu beruntung banget, Sandra,” kagum Risma.
Nina tertawa mendengar ucapan teman-temannya. “Kalian mau tahu aku dapat dari mana?”
Nina, Gea, dan Risma mengangguk serempak.
“Memangnya kamu dapat dari mana?” tanya Nina penasaran.
“Dari nenekku,” jawab Sandra.
“Memangnya kamu ulang tahun? Bukannya ulang tahun kamu masih dua bulan lagi?” tanya Gea heran.
“Nenek kamu baik banget! Kamu belum ulang tahun sudah dikasih kado,” komentar Risma.
“Yeee ... siapa bilang ini hadiah ulang tahun?” Sandra tertawa geli. “Ini hasil karya nenekku. Ini, kan, bakiak yang aku ceritakan itu. Kalian bilangnya ini sepatu Pinokio.”
“Ini sepatu Pinokio?” Nina, Gea, dan Sandra kembali terkejut.
Sandra mengangguk bangga.
“Ini sepatu Pinokio yang kamu ceritakan itu?” Nina mengulang pertanyaan dengan nada tidak percaya.
“Iya!” jawab Sandra. “Ini bakiak buatan nenekku.”
“Tapi ... kok, kayak kelom cantik yang di majalah Cantika?” Gea juga masih belum percaya.
“Buatannya halus. Lukisan bunga-bunganya juga indah.” Risma mengelus-elus bakiak alias sepatu Pinokio milik Sandra.”
“Nenekku memang punya usaha kecil-kecilan bikin bakiak seperti ini,” jelas Sandra. “Nah, khusus untuk aku, nenek sengaja membuatkan dengan warna biru kesukaanku yang dilukisnya dengan menggunakan cat untuk melukis di atas bahan.”
“Nenek kamu pintar, ya!” ucap Nina kagum.
“Iya. Aku jadi pengin dibuatkan bakiak seperti itu,” kata Gea.
“Aku juga!” ujar Risma, yang diikuti anggukan oleh Nina.
“Coba nanti aku tanya ke nenekku dulu, ya? Semoga nenek mau membuatkan untuk kalian juga. Kita, kan, bisa promosi ke teman-teman. Jadi membantu usaha nenekku juga, deh!” kata Sandra.
“Cihuuuy …!” seru Nina, Gea, dan Risma senang.
***

# Bagian ke-4

“Pssst ... neneknya Sandra baik, ya? Kita mau dikasih bakiak cantik seperti punya Sandra,” bisik Nina, saat mereka telah sampai di rumah nenek Sandra. Gea dan Risma mengangguk-angguk.
Kemarin, Sandra memberitahu Nina, Gea, dan Risma, kalau neneknya akan memberikan ketiganya masing-masing sepasang bakiak. Tetapi, nenek Sandra menginginkan mereka mengambil sendiri ke rumahnya. Saat diberitahu oleh Sandra, Nina, Gea, dan Risma, melonjak-lonjak kegirangan.
“Nah, ini dia bakiaknya. Alasnya terbuat dari kayu yang sudah diamplas dan dipernis halus. Nenek memasang penutup karetnya dengan warna yang berbeda-beda. Bakiak Sandra berwarna biru. Ini ada warna merah, hijau, dan ungu. Kalian pilih yang mana?” Nenek Sandra memperlihatkan tiga pasang bakiak di tangannya.
“Aku mau yang ungu, Nek!” pilih Nina.
“Aku yang hijau!” sahut Gea.
“Yang merah cantik. Aku pilih warna itu, Nek!” kata Risma.
Nenek Sandra tersenyum dan memberikan bakiak kepada Nina, Gea, dan Risma sesuai pilihan warna masing-masing.
“Terima kasih, Nek!” ucap Nina, Gea, dan Risma.
“Tapi, kok ....” Nina memandang bakiak warna ungu di tangannya. Kemudian memandang wajah Gea dan Risma bergantian. Ketiganya pun saling pandang.
Nenak Sandra tersenyum dan mengerti apa yang mereka pikirkan. “Bakiaknya belum dilukis, ya?”
“Iya, Nek!” jawab Risma. “Kami mau seperti punya Sandra. Bakiaknya bagus, mirip dengan kelom yang ada di halaman mode majalah Cantika.”
“Kok, namanya kelom? Bukannya namanya sepatu Pinokio?” goda nenek Sandra.
Nina, Gea, dan Risma tersipu malu. Nenek Sandra tersenyum melihatnya. Sandra malah tertawa melihat sikap ketiga temannya yang jadi salah tingkah.
“Bakiak itu sama dengan kelom. Sebutannya saja yang berbeda, tetapi bendanya sama,” jelas nenek Sandra. “Eh, tapi, bisa juga disebut sebagai sepatu Pinokio,” godanya lagi.
Mendengar perkataan neneknya, Sandra semakin tergelak. Nina, Gea, dan Risma pun akhirnya ikut tertawa.
“Sekarang bantu nenek mempercantik sepatu Pinokio kalian, ya?” ajak nenek Sandra.
Nenek Sandra kemudian membawa perlengkapan untuk melukis di atas bahan. Ada kuas dan beberapa warna cat lukis. Nenek Sandra memberi contoh cara melukisnya. Dengan semangat Nina, Gea, dan Risma melukis di atas bakiak masing-masing. Sandra tidak mau ketinggalan. Dia juga ikut minta sebuah bakiak untuk dilukis.
Sandra, Nina, Gea, dan Risma sangat gembira melihat hasil lukisan bakiak mereka. Ternyata hasilnya tidak kalah indah dibanding lukisan nenek Sandra.
“Terima kasih, Nek!” ucap Sandra, Nina, Gea, dan Risma riang.
“Pasti teman-teman kami yang lain pengin juga punya bakiak seperti ini,” kata Nina.
“Kalau mereka mau, mereka boleh pesan ke sini,” kata nenek Sandra. “Mereka pun bisa melukisnya sendiri seperti sepatu Pinokio kalian itu.”
Sandra, Nina, Gea, dan Risma tertawa mendengar ledekan nenek Sandra.
“Siap, Nek! Kami akan promosi sepatu Pinokio ini. Biar dagangan Nenek laris. Iya, kan, teman-teman?”
“Iyaaa ...!” Nina, Gea, dan Risma serempak menjawab sambil mengacungkan sepatu Pinokio masing-masing.
***

Dimuat di KORAN BERANI
28 Januari-3 Februari 2013 / Tahun VII / No. 3
4-10 Februari 20013 / Tahun VII / No. 4
11-17 Februari 20013 / Tahun VII / No. 5
18-24 Februari 20013 / Tahun VII / No. 6

Sabtu, 26 Januari 2013

[Tulisan Saya] Rahasia Kuat Puasa


Rahasia Kuat Puasa

Alhamdulillah, tahun ini aku belajar puasa Ramadhan sampai magrib. Tahun lalu, aku juga belajar puasa. Tapi, puasanya cuma setengah hari. Soalnya tahun lalu aku masih di TK. Di sekolah, selama bulan Ramadhan, diberlakukan puasa. Tidak makan dan minum selama berada di lingkungan sekolah. Waktu itu, paling cepat aku buka puasa pas pulang sekolah pukul 11.00. Setelah buka, puasanya dilanjutkan lagi.

Kalau tahun ini, aku sudah kelas 1. Aku lebih kuat dari tahun lalu. Jadinya aku belajar puasa sampai magrib. Aku berhasil. Dari hari pertama, puasaku sampai magrib. Alhamdulillah, senang rasanya.
Saat puasa, aku tetap bermain. Tidak lemas sama sekali. Rahasianya? Aku suka minum AC. Hehe ... iya, benar. Setiap kali pulang sekolah dan mama menjemputku, aku selalu minta cepat-cepat ke mobil untuk minum AC.
Pertama kali waktu aku bilang seperti itu, mama juga heran. 
"Minum AC? Apa itu, Sayang? Puasa kan, enggak boleh makan dan minum." Begitu kata Mama.
Aku tertawa dan menjelaskan ke mama, kalau minum AC itu artinya ‘ngadem’ alias mendinginkan badan di ruangan ber-AC. Begitu sampai di mobil, kupraktekkan, deh! Segar rasanya. Lumayan bisa minum AC sepanjang perjalanan dari sekolah menuju rumah.
Di rumah, aku tetap beraktivitas, tidak tidur saja. Rahasianya? Minum AC di kamar kalau capek dan kegerahan. Hasilnya, aku kuat puasa sampai magrib. Minuman yang satu ini, kan tidak membatalkan. 
-->Semoga tahun ini aku bisa puasa terus sampai magrib. Amin.

Raifasha Areza Fadhila (Arza)
Kelas 1, SD Islam At-Taqwa UI Rawamangun, Jakarta Timur.


Dimuat di REPUBLIKA
Rabu, 15 Agustus 2012

Rabu, 26 September 2012

[Tulisan Saya] Pengirim SMS Misterius

Cerita Bersambung


PENGIRIM SMS MISTERIUS
Shinta Handini

#Bagian 1
Nadia kesal. Pagi ini dia kembali mendapat SMS dari nomor yang sama. Tidak ada nama pengirimnya. Pesannya sih, biasa saja. Cuma mengucapkan: “Selamat beraktifitas, Nadia. Semoga hari ini menyenangkan”. Lalu diakhiri dengan emoticon senyum.
Pagi ini adalah hari keempat Nadia menerima SMS yang sama. Waktu pertama kali menerima SMS tersebut, Nadia membalasnya dengan sukacita. Dia mengucapkan terima kasih dan menanyakan nama pengirimnya. Tidak ada balasan. Hingga kemarin pagi, Nadia masih membalasnya dengan kalimat-kalimat yang ramah. Namun pagi ini Nadia tidak membalasnya. Percuma saja, pikirnya, pasti tidak akan dibalas lagi.
“Nadia, lekas sarapan. Nanti kamu terlambat ke sekolah.” Terdengar panggilan Ibu dari ruang makan.
Nadia cepat-cepat menyisir rambut dan membedaki mukanya. Setelah itu menuruti ibu untuk sarapan.
Seperti biasa Nadia lebih memilih berjalan kaki ke sekolah daripada ikut mobil ayahnya. Alasan Nadia karena dia bisa menikmati udara pagi yang masih segar. Selain itu katanya, sekalian olahraga. Jalan pagi bisa membuat badan menjadi sehat.
“Nadia berangkat sekolah dulu, Ayah ... Ibu ....” Nadia mencium tangan keduanya.
“Iya, hati-hati di jalan,” pesan Ibu.
Nadia menjemput Dizka, teman sekelasnya. Rumahnya hanya berbeda satu blok dengan rumah Nadia.
“Dizka ... Dizka ...,” panggil Nadia dari luar pagar rumah Dizka.
“Iya, sebentar! Aku pakai sepatu dulu, ya! Kamu masuk saja,” balas Dizka dari dalam rumahnya.
Seperti biasa, Nadia lebih memilih untuk menunggu di luar rumah Dizka. Nadia senang melihat-lihat sekitarnya. Di seberang rumah Dizka ada taman. Kalau pagi hari seperti ini, suasana terlihat ramai. Banyak orang tua sebaya kakek dan nenek Nadia yang berolahraga. Ada juga ibu-ibu muda yang mengajak anak balitanya yang belum bersekolah bermain-main di taman.
Tiba-tiba mata Nadia tertuju ke rumah di sebelah rumah Dizka. Ada yang berbeda di sana. Rumah baru itu sepertinya sudah dihuni. Nadia sempat tertegun. Tadi sekelabat dia melihat ada seseorang di atas balkon.
“Hai!”
Nadia terkejut.
“Kok, kamu enggak pernah mau masuk, sih?” Tiba-tiba saja Dizka sudah muncul di hadapannya.
“Aku lebih senang menunggumu di sini. Asyik melihat kegiatan banyak orang di taman itu!”
“Ya, sudah. Yuk, kita berangkat.”
Nadia mengangguk. Sebelum mengikuti langkah Dizka, kembali Nadia menoleh ke arah rumah tadi. Nadia ingin memastikan penglihatannya. Tapi rumah itu tetap sunyi. Ah, mungkin aku salah lihat, batin Nadia.
***


#Bagian 2
“Sms ini lagi. Siapa sih, dia?” Nadia menggerutu. Seperti biasa, sms yang sama muncul di layar ponselnya. Kali ini dengan rasa kesal, Nadia membalas sms tersebut.
Kamu siapa, sih? Kalau berani, tunjukkan dirimu!
SEND!
Tidak berapa lama, muncul balasan di layar ponsel Nadia.
Boleh! Aku berada di sekitar Taman Dahlia pagi ini.
“Taman Dahlia? Itu kan taman yang berada di seberang rumah Dizka. Hm, siapa takut,” gumam Nadia.
Oke! Taman itu di seberang rumah temanku. Aku biasa menjemputnya untuk berangkat bersama ke sekolah. Aku akan datang lebih pagi.
Nadia kembali menekan tombol SEND. Terkirim.
Bergegas Nadia bangun dan mandi. Hampir saja Nadia melupakan sarapannya. Nadia tidak sabar. Dia ingin cepat-cepat mengetahui siapa pengirim sms yang setiap pagi mengirimkan pesan ke ponselnya. Pengirim sms misterius.
Pagi ini, selain menjemput Dizka untuk berangkat bersama ke sekolah, Nadia mempunyai misi yang lain. Apalagi kalau bukan untuk bertemu dengan pengirim sms misterius itu.
“Dizka ... Dizka ....” Seperti biasa Nadia memanggil sahabatnya itu untuk memberitahukan kehadirannya.
“Ya, ampun, Nadia. Pagi banget! Aku baru selesai mandi. Tunggu ya!” seru Dizka terkejut. “Eh, masuk dulu, deh! Kamu ikut sarapan, yuk!”
“Aku sudah sarapan. Aku sengaja lebih pagi karena mau ke taman dulu. Aku tunggu di sana ya!”
Tanpa menunggu jawaban dari Dizka, Nadia segera menyeberang menuju taman.
Mana dia? ucap Nadia dalam hati. Nadia celingak-celinguk mencari. Dia memperhatikan satu per satu orang yang berada di taman itu. Siapa tahu ada orang yang mengenali dirinya. Dari sms-sms yang diterimanya setiap pagi, Nadia yakin kalau pengirim misterius itu mengenalinya. Tapi sudah 15 menit menunggu, belum juga ada tanda-tanda si pengirim sms misterius itu menyapanya.
“Di mana dia?” Nadia masih bersabar. “Uh, sayangnya ke sekolah tidak boleh membawa ponsel. Sekarang aku jadi tidak bisa mengirim pesan ke pengirim sms misterius itu.”
Nadia memutuskan untuk mengelilingi taman. Tetapi tetap tidak ada tanda-tanda kemunculan pengirim sms misterius itu. Nadia kesal. Pengirim sms misterius itu telah mempermainkannya.
“Nadia ... Nadia ....”
Nadia menoleh. Dari kejauhan Dizka memanggil sambil melambaikan tangannya. Nadia berjalan mendekati Dizka.
“Sudah? Yuk, berangkat!” ajak Nadia dengan nada jengkel.
“Nadia, kamu marah? Maaf ya, kamu sudah lama menungguku.”
“Eh ... bukan! Enggak, kok! Aku enggak marah sama kamu. Aku cuma jengkel sama seseorang.”
“Seseorang? Siapa?” tanya Dizka.
“Nantilah aku ceritakan. Sekarang kita berangkat ke sekolah. Takut telat!”
“Yuk! Tapi kamu cerita ya?”
Nadia mengangguk. Sekali lagi Nadia melihat ke sekeliling taman. Dia menghela napas dan berjalan keluar taman. Dizka mengikutinya.
***

# Bagian 3
“Hai, yuk, berangkat!” ajak Dizka.
Nadia ternganga melihat Dizka yang sudah siap. Biasanya, setiap kali dijemput, Dizka pasti belum siap. “Tumben kamu sudah siap.”
“Aku penasaran sama ceritamu kemarin.” Dizka berbicara dengan suara pelan, nyaris berbisik. “Bagaimana? Pengirim sms misterius itu masih mengirim pesan-pesannya ke ponselmu?
Nadia menghela napas. “Pagi ini dia tidak mengirimkan sms-nya,” katanya dengan nada sedikit kecewa. Tidak bisa disangkal, sapaan dari pengirim sms misterius yang tiap pagi diterima Nadia telah menjadi kebiasaan baru yang menyenangkan. Ada rasa kehilangan saat pesan itu tidak diterimanya.
“Kenapa?”
“Aku enggak tahu. Mungkin dia marah kepadaku.”
“Marah sama kamu? Memangnya kamu sudah berbuat apa sama dia? “
“Aku kemarin kesal, karena dia mempermainkanku. Katanya dia berada di sekitar taman, ternyata tidak ada. Lalu aku mengirim sms kepadanya. Aku bilang: ‘Kamu pembohong!’. Dia tidak membalasnya. Bahkan sms yang dikirimkannya tiap pagi juga enggak ada.”
“Hm, ya jelas kamu kesal. Aku juga pasti kesal kalau dipermainkan seperti itu. Ya sudah, kita lihat besok pagi. Apa dia akan mengirim sms-nya lagi?”
Nadia terdiam.
“Eh, siapa tahu dia sekarang ada di taman. Masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah. Kita ke taman dulu saja, yuk!” Dizka menarik tangan Nadia, mengajaknya menuju taman di seberang rumahnya.
Tiba-tiba .... BRAK!
“Aduh!” Dizka menjerit kesakitan. Kakinya menabrak sebuah kursi roda.
“Maaf, Dizka. Kamu tidak apa-apa?” Gadis yang duduk di kursi roda itu bertanya dengan cemas.
“Eh, Mayra. Aku yang salah karena tidak memperhatikan jalan. Aku tidak apa-apa,” jawab Dizka dengan mimik meringis.
“Kakimu sedikit lebam.” Gadis di kursi roda yang bernama Mayra itu memperhatikan kaki Dizka. “Mungkin kamu mau mampir ke rumahku. Aku punya obat yang bisa mengurangi rasa sakitnya.”
Dizka melihat ke arah Nadia, meminta pendapatnya.
“Sepertinya memang harus diobati,” ucap Nadia. “Lumayan lebamnya. Pasti rasanya nyut-nyutan.”
“Iya, sih,” jawab Dizka masih meringis.
Nadia melirik jam tangan birunya. Masih banyak waktu, ucapnya dalam hati.
“Eh, iya, Nadia. Kenalkan, ini Mayra, tetangga baruku. Itu, rumahnya persis di sebelah rumahku.” Dizka menunjuk ke sebuah rumah bercat biru.
Nadia terkesiap. Berarti benar rumah baru di sebelah rumah Dizka itu sudah ditempati.
 Nadia dan Mayra berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing.
“Yuk, sekarang kita ke rumahku,” ajak Mayra.
Nadia dan Dizka mengikuti Mayra yang berjalan dengan mengayuh kursi roda menuju rumahnya.
***

# Bagian 4
Rumah Mayra bagus sekali. Warna dinding dan perabotannya didominasi oleh biru dan putih. Nadia suka sekali, karena dia penggemar warna biru.
“Ayah dan Bundaku sudah pergi ke kantor. Tinggal aku dan Bik Ninis. Sebentar lagi Bu Dhea, guru pribadiku, datang.” Mayra menjelaskan tanpa diminta.
“Jadi, kamu enggak sekolah?” tanya Dizka heran. Dia baru mengetahui hal itu.
Nadia memandang Mayra dengan pertanyaan yang serupa.
Mayra menggeleng. “Aku capek menjadi bahan ejekan teman-teman di sekolah karena kakiku yang cacat. Aku sedih dan malu. Sedikit sekali yang mau berteman dengan anak cacat seperti aku. Akhirnya aku minta untuk home scholling, belajar di rumah dengan guru pribadi.”
Nadia dan Dizka saling berpandangan.
“Ini obatnya.” Mayra mengangsurkan sebotol minyak gosok kepada Dizka.
Setelah mengoleskan ke lebam di kakinya dan berterima kasih, Dizka pamit.
“Nanti kami akan ke sini lagi,” janji Nadia. “Boleh, kan?”
“Tentu boleh!” Dizka yang mewakili Mayra menjawab pertanyaan Nadia.
Mayra tertawa dan mengangguk-angguk senang. Dia mengantarkan kedua temannya menuju pintu rumah.
Tiba-tiba, Nadia berhenti saat melewati lemari kecil. “Ini seperti buku catatan kegiatanku yang hilang!” Nadia meraih sebuah buku kecil bersampul biru muda. “Iya, benar! Ini bukuku,” katanya setelah memeriksa buku tersebut. “Kenapa bisa ada di kamu?” Nadia memandang ke arah Mayra.
Mayra menjadi salah tingkah. Dia menundukkan kepalanya. “Maafkan aku. Buku itu kutemukan di depan pagar rumah Dizka. Aku tahu kalau itu bukumu, karena aku selalu memperhatikan kalian dari balik jendela rumahku. Tapi aku ragu untuk mengembalikannya kepadamu. Aku takut kalau kamu sama seperti kebanyakan teman-temanku sebelumnya, mengejek kakiku yang cacat.”
“Aku tidak pernah mengejekmu,” potong Dizka.
“Iya, kamu teman yang baik. Kamu salah satu yang mau jadi temanku.”
“Aku juga tidak!” sambar Nadia.
“Iya, aku juga yakin begitu setelah memperhatikanmu beberapa lama.”
“Lalu kenapa kamu tidak juga mengembalikannya?” tanya Nadia.
“Aku malu karena telah menahannya terlalu lama. Lagipula ....”
“Lagipula apa?” kejar Nadia.
Mayra terdiam sesaat. “Lagipula ... aku senang mengirimkan pesan via sms kepadamu setiap pagi. Aku melihat ada nomor ponselmu di buku itu.”
“Jadiii ...?” Nadia terkejut. Dizka pun sama terkejutnya. Mereka berdua menatap ke arah Mayra, kemudian saling berpandangan. Tiba-tiba keduanya tertawa terbahak-bahak. Mayra menjadi heran dan bingung.
“Kenapa?”
“Kamu tahu, kamu telah berhasil membuatku kebingungan. Kemarin pun kamu telah mengerjai aku dengan menyuruhku ke Taman Dahlia.” Nadia menjelaskan sambil berusaha mengerem tertawanya.
“Maafkan aku lagi. Aku kemarin melihatmu. Tetapi ragu untuk mendekatimu. Pas aku bertekad untuk menemuimu, kulihat Dizka sudah datang dan mengajakmu berangkat ke sekolah. Pagi ini aku berniat untuk menemuimu. Aku terburu-buru, hingga terjadi tabrakan tadi.”
“Akhirnyaaa ... terbuka sudah identitas pengirim sms misterius,” kata Dizka.
“Masihkah kalian mau menjadi temanku?” tanya Mayra ragu.
“Tentu saja!” jawab Nadia dan Dizka berbarengan.
“Kalian memang baik.” Mayra tersenyum senang.
Baiklah, kami harus ke sekolah,” pamit Nadia. “Pikirkan, mungkin kamu mau bersekolah di sekolah kami. Oh ya, jangan jadi pengirim sms misterius lagi.”
Mayra tertawa. Dia melambaikan tangannya kepada Nadia dan Dizka. Kini dia mempunyai dua teman baru. Semoga akan bertambah lagi teman barunya yang baik seperti mereka.
*****

Dimuat di KORAN BERANI
2-8 Juli 2012 / Tahun VI / No. 26
9-15 Juli 2012 / Tahun VI / No. 27
16-22 Juli 2012 / Tahun VI / No. 28
23-29 Juli 2012 / Tahun VI / No. 29

[Tulisan Saya] Kue Betawi Jadul

Cerita Pendek

KUE BETAWI JADUL
Shinta Handini

Lani senang sekali. Sekarang dia berada di daerah Kemayoran, Jakarta Utara. Bersama kedua orangtuanya, sore ini dia mengunjungi Pekan Raya Jakarta untuk pertama kali.
Pekan Raya Jakarta berlangsung selama sebulan. Diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kota Jakarta yang jatuh setiap tanggal 22 Juni.
Kata teman-teman yang sudah berkunjung, banyak sekali kios yang menjual barang-barang buatan Indonesia. Yang pasti, katanya banyak dijual makanan khas Jakarta. Wuih, membayangkannya saja Lani sudah menelan air liur. Pasti enak-enak, karena Lani belum pernah mencicipinya.
Setelah membeli tiket, Lani dan kedua orangtuanya pun masuk. Lani takjub melihat ke sekelilingnya. Banyak sekali orang yang berkunjung. Lampu warna-warni menerangi seluruh area. Seperti pasar malam. Meriah!
“Kita ke sana dulu, yuk! Ke kios perabotan rumah tangga. Siapa tahu ada yang bagus dan murah,” ajak Ibu.
“Boleh! Setelah itu ke kios barang-barang elektronik ya ... Ayah pingin melihat teknologi yang terbaru.”
Lani mengikuti saja. Diperhatikannya setiap kios yang mereka lewati dan singgahi. Ada kios yang menjual kain batik, kerajinan dari perak, cenderamata dari berbagai daerah di Indonesia, hingga peralatan teknologi yang canggih. Sudah pasti ayah dan ibu membeli barang-barang yang mereka incar. Mumpung murah katanya.
Mengitari area Pekan Raya Jakarta yang luas ternyata capek juga.
“Ayah ... Ibu ... Istirahat dulu, yuk! Haus, nih!” Lani berkata seraya mengelus-elus lehernya.
“Eh, Ibu juga haus.”
“Kita ke kios makanan saja. Selain minuman, banyak makanan khas Betawi,” ajak Ayah.
“Betawi?” tanya Lani heran.
“Iya, Betawi itu nama lain dari Jakarta. Orang-orang jaman dulu menyebut Jakarta itu Betawi,” jelas Ibu.
“Oh, begitu!” Lani mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Nah, ada kerak telur di sana!” tunjuk Ayah. “Sudah lama ayah tidak memakannya. Kalau tidak ada acara seperti ini, jarang sekali ada yang jual.”
“Ibu mau makan kue-kue khas Betawi juga. Itu disana banyak dijual.”
“Kalau aku, yang jelas mau minum dulu! Haus ...,” pinta Lani.
“Iya, kita beli minum dulu,” kata Ibu.
Setelah minum, Lani mengikuti ayah membeli kerak telur. Sementara ibu membeli kue-kue khas Betawi lainnya.
Lani memperhatikan penjual kerak telur membuat pesanan ayahnya. Bahan utamanya telur, beras ketan putih, dan ebi. Kemudian diberi bumbu dan dimasak di atas penggorengan. Kompornya lucu, terbuat dari tanah liat dengan arang yang dibakar didalamnya. Setelah jadi, ia pun mencicipinya.
“Enak!” seru Lani.
“Coba cicipi juga kue-kue ini,” kata Ibu yang datang dengan berbagai jenis kue khas Betawi di tangannya.
Lani mengambil kue berbentuk seperti bunga.
“Itu namanya kue kembang goyang,” jelas Ibu. “Kalau yang ini kue rangi. Terbuat dari tepung beras. Nah, kalau satunya lagi namanya kue akar kelapa. Namanya sesuai dengan bentuknya.” Ibu membongkar hasil belanjaannya.
Lani mencicipi satu per satu.
“Wah, enak semuanya ... Aku suka!” kata Lani sambil mengunyah. “Lain kali kita beli lagi ya, Bu.”
“Sepertinya harus menunggu tahun depan, ketika Pekan Raya Jakarta diselenggarakan lagi. Ini kan kue-kue langka,” sela Ayah.
“Langka? Kenapa, Yah?“ tanya Lani.
“Ini kue-kue Betawi jaman dahulu. Dibuat kalau ada acara-acara seperti acara pernikahan dan sunatan yang memakai adat Betawi.”
“Yaaa ... padahal aku terlanjur suka sama kue-kue Betawi jadul ini,” keluh Lani.
“Jadul?” ganti Ayah yang tidak mengerti.
“Jadul itu jaman dahulu,” jelas Lani sambil tertawa.
Ayah dan Ibu pun turut tertawa.
“Tenang ... Nanti kita cari. Di pasar-pasar tradisional terkadang masih ada yang jual. Walau tidak semuanya,” kata Ibu. “Bisa juga nanti kita coba membuatnya sendiri.”
“Asyik .... Benar ya, Bu?”
Ibu tersenyum seraya mengangguk.
“Sekarang kita pulang, yuk!” ajak Ayah. “Sudah hampir tengah malam.”
“Iya, aku juga sudah mengantuk,” Lani terlihat sesekali menguap.
Mereka pun pulang dengan membawa banyak cerita dan buah tangan. Diantaranya kue-kue Betawi jadul, kue-kue yang enak dan segera menjadi favorit Lani.
***

Dimuat di MAJALAH BERANI, 20 Juni 2012, No. 12/1

[Tulisan Saya] Mangga Oh Mangga

Cerita Bersambung

MANGGA OH MANGGA
Shinta Handini

#Bagian 1

“Anak-anak, mohon perhatian!” Bu Ririn, wali kelas 1A, berdiri di muka kelas.
Murid-murid kelas 1A yang sedang tekun mengerjakan soal latihan matematika langsung menghentikan kegiatannya.
“Hari ini sekolah kita kedatangan tamu dari Puskesmas Seridas,” kata Bu Ririn. “Di samping Ibu, ada seorang Dokter yang akan memberikan penjelasan tentang pentingnya makan sayur dan buah.”
Perhatian murid-murid kelas 1A pun langsung tertuju kepada sosok seorang wanita anggun dan cantik berseragam putih-putih di samping Bu Ririn.
“Silakan Bu Dokter memperkenalkan diri,” ucap Bu Ririn.
“Selamat pagi, anak-anak ...,” sapa Bu Dokter. “Perkenalkan nama Ibu adalah Tasya Kemala. Kalian bisa memanggil Ibu dengan Dokter Tasya.”
“Bu, namanya seperti nama seorang penyanyi, deh!” celetuk Agga.
“Iya, ibu sodaranya, ya?” sambung Dito.
Bu Ririn dan Dokter Tasya tersenyum mendengar pertanyaan murid-murid di kelas 1A. Dengan sabar Dokter Tasya melayani mereka.
“Bukan, kok!” jawab Dokter Tasya. “Pasti karena nama Ibu yang hampir mirip, ya?”
Murid-murid kela 1A serempak menganggukkan kepalanya.
“Tapi bener deh, Bu. Nggak cuma namanya. Ibu beneran mirip sama penyanyi terkenal itu,” Agga masih penasaran. “Jangan-jangan Ibu saudara kembarnya, ya?” Kali ini Agga mendekati Dokter Tasya dan serius memperhatikan wajahnya.
“Agga ...,” Bu Ririn memperingatkan.
“Iya, Bu, sebentar,” Bukannya kembali ke bangkunya, Agga malah semakin mendekati Dokter Tasya. “Bu, salam ya buat saudara kembar Ibu,” katanya sambil berbisik di telinga Dokter Tasya.
Dokter Tasya tersenyum seraya mengacungkan jempol tangan kanannya.
Agga puas dan kembali duduk ke bangkunya.
“Sekarang kita lupakan masalah nama ya ...,” kata Dokter Tasya. “Sekarang kita ngobrolin buah dan sayur aja. Bagaimana? Setuju, kan?”
“Tapi kita kan sedang mengerjakan latihan soal matematika, Bu Dokter,” protes Dinda.
Dokter Tasya melihat ke arah Bu Ririn.
“Anak-anak, soal-soal matematika itu bisa kalian lanjutkan pengerjaannya di rumah. Besok akan kita bahas. Untuk saat ini, kita akan mendengarkan pengetahuan penting yang akan disampaikan oleh Dokter Tasya,” kata Bu Ririn dengan bijak.
Dinda terlihat kecewa dengan keputusan Bu Ririn. Dengan wajah cemberut dimasukkannya buku dan semua peralatan tulis ke dalam tasnya.
***

#Bagian 2

“Silakan Dokter Tasya.”
“Terima kasih, Bu Ririn,” ucap Dokter Tasya. “Baik anak-anak, siapa yang tau Ibu dari Puskesmas mana?”
“Saya, Bu Dokter!” Agga yang pertama menjawab sambil menunjukkan tangannya. “Puskesmas Seridas.”
“Ya, benar!” puji Dokter Tasya. “Siapa yang tau singkatan dari Seridas?”
Semua murid kelas 1A saling berpandangan dan menggelengkan kepalanya.
Dokter Tasya tersenyum. Sementara itu Bu Ririn mengambil tempat duduk di kursi guru sambil ikut mendengarkan.
“Seridas itu singkatan dari Sehat, Riang, dan Cerdas,” jawab Dokter Tasya.
“Ooo ...,” sahut murid-murid kelas 1A serempak.
“Nah, pasti semua anak-anak di kelas ini termasuk anak yang seridas, kan?”
“Iya, Bu Dokter ....” Murid-murid kelas 1A kembali menjawab dengan kompak.
“Pasti suka makan buah dan sayur, kan?”
“Iya, Bu Dokter ...”
“Enggak, Bu Dokter ...”
Kali ini jawabannya tidak kompak. Dokter Tasya tertawa mendengar jawaban yang saling bersahut-sahutan itu.
“Wah, yang nggak suka makan sayur dan buah, sayang sekali. Padahal bisa membuat badan menjadi sehat, karena banyak mengandung vitamin. Daya tahan tubuh jadi kuat,” jelas Dokter Tasya. “Yang suka makan sayur dan buah pasti jarang sakit, deh! Jadi nggak akan sering-sering bolos sekolah karena sakit.”
Dokter Tasya kemudian menunjukkan gambar-gambar berbagai macam sayur dan buah. Murid-murid kelas 1A diajak bermain tebak-tebakkan mengenal nama-nama buah dan vitamin yang terkandung di dalamnya. Semuanya bersemangat sekali untuk ikut bermain. Di akhir permainan, semua murid di kelas 1A mendapatkan hadiah dari Dokter Tasya.
“Terima kasih anak-anak. Kita sudah bermain sambil belajar. Hadiahnya akan segera dikirim kemari ya ... Selamat menikmati,” ucap Dokter Tasya. “Sekarang Ibu pamit kembali bertugas ke Puskesmas Seridas. Sampai jumpa lagi.”
“Terima kasih kembali, Bu Dokter Tasya ...,” sahut murid-murid kelas 1A.
“Bu Dokter!” seru Agga tiba-tiba.
“Ya?” Dokter Tasya yang tengah berjalan menuju pintu keluar kelas pun berbalik.
“Jangan lupa ya, Bu ... Salam buat saudara kembar Bu Dokter. Bener lho, Bu,” kata Agga serius.
Dokter Tasya yang tadinya hendak tertawa, melihat mimik serius Agga jadi ikut-ikutan serius.
“Sip! Nanti kalau ketemu akan Ibu sampaikan.”
“Yippeee ... Bener kan kataku. Bu Dokter kembarannya penyanyi terkenal itu.” Agga jingkrak-jingkrak kegirangan.
Kali ini Dokter Tasya tidak bisa menyembunyikan tawanya.
“Sudah ya, anak-anak. Ibu pamit dulu.”
“Iya, Bu Dokter ...”
***

#Bagian 3

Beberapa saat lamanya kelas kembali ribut, karena Bu Ririn mengantarkan Dokter Tasya ke luar kelas. Ketika kembali, Bu Ririn membawa nampan yang berisikan banyak gelas plastik.
“Anak-anak ... Ini dia hadiah dari Dokter Tasya. Jus mangga!” seru Bu Ririn dengan riang.
“Horeee ...!” Murid-murid kelas 1A bersorak gembira.
“Agga, bantu Ibu membagikannya ke teman-teman ya,” pinta Bu Ririn.
“Siap, Bu!” Dengan sigap Agga menjawab dan segera membantu Bu Ririn.
Setelah semua mendapatkan bagiannya, tiba-tiba ....
“Whoaaa .... Huaaa ... Huaaa ... Huaaa ...,” Dinda menangis keras sekali.
Semua terkejut dan menoleh ke arah Dinda.
“Dinda, ada apa?” tanya Bu Ririn.
Teman-teman Dinda pun ikut mengerubuti Dinda.
Bukannya berhenti menangis, Dinda malah semakin mengeraskan tangisannya.
“Renni, ada apa dengan Dinda?” tanya Bu Ririn kepada Renni, teman sebangku Dinda.
“Saya nggak tahu, Bu. Saya juga kaget tahu-tahu Dinda nangis kencang kayak gitu.”
“Teman-teman, ada yang tahu Dinda kenapa?” Bu Ririn mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas.
Murid-murid kelas 1A menggeleng semua.
“Mungkin tangan atau kakinya kejepit, Bu!” seru Dito.
“Benar begitu Dinda?” Bu Ririn menoleh ke arah Dinda.
“Whoaaa .... Huaaa ... Huaaa ... Huaaa ...,” Dinda masih tetap menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lalu kenapa kamu menangis?” Kembali Bu Ririn bertanya dengan sabar.
“Mungkin mangganya asem, Bu!”
“O ya? Masa, sih? Coba kita minum bersama-sama,” ajak Bu ririn.
Murid-murid kelas 1A kembali ke tempat duduk dan minum jus mangganya masing-masing.
“Punyaku manis, kok!”
“Jus manggaku juga manis.”
“Iya, punyaku juga manis.”
Seluruh teman-teman Dinda memberikan pendapatnya.
“Benar,” kata Bu Ririn. “Jus mangga kepunyaan Ibu juga manis rasanya.”
“Apa jus mangga punya Dinda beda, ya?” tanya Renni bingung.
“Masa, sih?” Agga balik bertanya.
“Dinda, aku coba, yaaa ...,” kata Renni langsung menyedot jus mangga milik Dinda. “Slruuup ... Manis.”
“Masa? Aku juga coba yaaa ...,” kata Agga. “Slruuup ... Iya, manis.”
“Mana? Mana? Aku juga mau coba.” Teman-teman Dinda yang lain ikut mencoba satu-persatu.
Hingga akhirnya jus mangga kepunyaan Dinda habis diminum oleh teman-temannya.
“Jus mangga Dinda juga manis!” Seluruh teman-teman Dinda menyimpulkan.
***

#Bagian 4

Melihat gelas jus mangganya sudah kosong Dinda berhenti menangis.
Sementara itu Bu Ririn menjadi panik melihat perbuatan teman-teman sekelas Dinda.
“Aduh, kenapa jus mangga Dinda dihabiskan?” tanya Bu Ririn.
Cepat-cepat Bu Ririn mengambil segelas jus mangga yang masih tersisa di nampan dan segera memberikannya kepada Dinda.
Bukannya senang, Dinda malah kembali menangis.
“Whoaaa .... Huaaa ... Huaaa ... Huaaa ....”
“Dinda, stop! Jangan menangis lagi,” perintah Bu Ririn. “Ini jus mangganya sudah Ibu ganti.”
Dinda pun berusaha menghentikan tangisnya.
Dengan masih sesenggukan, Dinda menjawab,”Aku nggak mau yang iniii ...,” tunjuknya pada segelas jus mangga yang masih penuh. “Aku mau yang ituuu ....” Kini tangan dinda menunjuk pada gelas yang sudah kosong.
“Maksud Dinda apa?” Bu Ririn terlihat bingung.
“Aku nggak mau jus manggaaa ... Aku nggak suka manggaaa ...,” Kembali Dinda menangis keras.
Bu Ririn dan teman-teman sekelas Dinda terpana mendengar jawaban Dinda.
“Dinda ... Kenapa nggak bilang dari tadi? Kenapa pakai menangis segala?”
“Aku ... nggak suka ... jus mangga ... tapi ... aku mau sehaaat ...,” jawab Dinda terbata-bata.
Bu Ririn tersenyum mendengar jawaban Dinda.
“Memangnya kenapa Dinda nggak suka jus mangga?”
“Aku pernah coba. Rasanya asem. Aku nggak sukaaa ....”
“Kita coba jus mangga yang ini, yuk!” ajak Bu Ririn. “Pasti Dinda suka, karena jus mangga yang ini manis rasanya.”
Ragu-ragu Dinda mulai menyedot sedikit jus mangga di gelasnya.
“Whoaaa .... Huaaa ... Huaaa ... Huaaa ....” Dinda kembali menangis kencang.
Bu Ririn dan teman-teman sekelas Dinda kembali terkejut.
“Sekarang kenapa lagi?” tanya Bu Ririn.
“Aku suka mangga yang iniii ...,” jawab Dinda.
Mendengar jawaban Dinda, semua teman-teman sekelasnya tertawa terbahak-bahak.
”Dinda ... Dinda ...,” Bu Ririn sampai kehabisan kata-kata dan hanya dapat ikut tertawa.
***

Dimuat di KORAN BERANI
21-27 Mei 2012 / Tahun VI / No. 20
28 Mei - 3 Juni 2012 / Tahun VI / No. 21
4-10 Juni 2012 / Tahun VI / No. 22
11-17 Juni 2012 / Tahun VI / No. 23

[Tulisan Saya] Kecanduan Game Boy

Cerita Pendek

Kecanduan Game Boy
Shinta Handini

“Agga ... sudah hampir jam enam. Nanti kamu terlambat ke sekolah!” Terdengar suara Mama dari arah dapur.
Di kamarnya, Agga masih saja bergelung di bawah selimut.
“Aggaaa ...!” Kali ini mama memanggil lebih keras lagi. Tetap tidak ada sahutan. Mama kelihatan tidak sabar dan segera menuju kamar Agga.
Agga mendengar suara langkah kaki mama yang mendekati kamarnya. Terdengar suara pintu dibuka. Agga semakin merapatkan selimutnya.
“Kamu ini, mau sekolah enggak, sih?” tanya mama gemas. “Ayo, bangun!” Mama membuka selimut Agga dan memaksanya untuk segera bangkit dari tempat tidur.
Dengan malas-malasan Agga bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Kepalanya disandarkan ke dinding. “Agga hari ini enggak sekolah ya, Ma.”
“Lho, kenapa? Kamu sakit?” Mama meraih kepala Agga dan memegang dahinya. “Enggak panas. Terus, kenapa kamu enggak mau ke sekolah?”
“Tenggorokan Agga sakit, Ma,” jawab Agga. “Ini untuk menelan air ludah saja sakit.” Agga memperlihatkan mimik kesakitan saat berusaha menelan air ludah.
“Ya sudah, kamu istirahat saja di rumah. Nanti mama akan telpon Bu Dewi, wali kelas kamu, izin tidak masuk karena sakit.”
Agga menurut dan kembali berbaring di tempat tidur. Mama menyelimuti Agga. Setelah itu mama berjalan ke luar kamar. Pintu kamar ditutup.
“Yes!” Agga berseru kecil. Diambilnya sesuatu dari bawah bantalnya. “Asik, seharian aku bisa main game boy.” Agga mulai menyalakan mainan elektronik yang didapatnya dari tante Hana, adik mama Agga yang tinggal di luar negeri.
“Agga!” Tiba-tiba saja kepala mama sudah menyembul dari balik pintu.
Agga terkejut. Cepat-cepat disembunyikannya game boy ke bawah bantal. “Iya, Ma,” jawab Agga gugup.
“Biar lekas sembuh, mama buatkan bubur ayam, ya?”
“Nasi aja, deh, Ma,” tawar Agga. Sudah terbayang di kepala Agga semangkuk bubur panas yang tidak disukainya. Menurut Agga, bubur itu makanan bayi, sama sekali tidak enak.
“Kalau untuk menelan air ludah saja sakit, apalagi harus makan nasi?” tanya Mama. “Sudah, pokoknya kamu istirahat dulu. Mama buatkan buburnya, sebentar.” Keputusan mama sudah bulat, Agga harus makan bubur. Mama kemudian pergi ke dapur.
“Ya sudah, pasrah saja, deh! Yang penting hari ini aku bisa main game boy seharian. Enggak perlu ulangan matematika.” Agga kembali mengambil game boy dari bawah bantal. Kali ini dia tidak peduli harus makan bubur yang sama sekali tidak disukainya.
***

“Kamu kemarin kemana, Agga? Kok, enggak masuk sekolah?” tanya Dani saat bertemu di pintu gerbang sekolah. Mereka jalan beriringan menuju kelas.
“Eh ... oh ... aku sakit,” jawab Agga gugup.
“Wah, sayang sekali kamu tidak masuk. Kemarin kita ada kegiatan yang asik, loh!”
“Kegiatan apa?” tanya Agga penasaran. Langkahnya terhenti. “Bukannya kemarin harusnya ulangan matematika?”
“Enggak jadi! Kemarin Pak Iwan enggak masuk, jadi kita enggak jadi ulangan,” jelas Dani. Langkahnya ikut terhenti. “Terus ada kunjungan mendadak dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang mengajak kita untuk menonton film.”
“Hah? Jadi, enggak belajar?” tanya Agga lagi.
“Ya, enggaklah ... Kita enggak cuma diajak nonton film, tapi juga dikasih souvenir tas dan alat-alat sekolah. Ini seperti yang kupakai.” Dani menunjukkan tas punggungnya.
“Bagus banget!” puji Agga. “Coba aku masuk sekolah, kemarin. Pasti aku juga dapat tas kayak punya kamu. Nyesel aku sudah bolos sekolah.”
“Loh, tadi katanya kamu sakit? Kok, sekarang kamu bilang bolos sekolah?”
“Ups ...,” Agga keceplosan.
“Berarti kamu bohong! Kamu bolos sekolah, kan?” kejar Dani
Agga jadi gelisah ditanya seperti itu. “Iya, aku sudah bohong. Kemarin aku tidak sakit, tapi bolos sekolah.”
“Kenapa kamu bohong? tanya Dani.
“Aku masih penasaran sama game boy milikku,” Agga berkata lirih, merasa bersalah. “Aku ingin memenangkan permainannya.“
“Aduh, Agga ... Kamu itu sudah kecanduan main game boy. Lihat akibatnya!” kata Hendi. “Kamu jadi bolos sekolah dan membohongi semua orang.”
“Iya ... Aku minta maaf.” Agga menunduk.
“Kamu harus minta maaf kepada mamamu dan Pak Iwan. Merekalah yang kamu bohongi,” kata Dani. “Lagipula, dengan membolos, kamu jadi banyak merugi, terutama rugi waktu dan rugi tidak mendapat ilmu baru.”
“Iya, kamu benar, Dani!”
“Selain itu, saat kamu membolos kemarin, kamu tetap harus mengikuti ulangan matematika, kan? Tidak karena membolos, lantas tidak jadi ulangan?"
Agga menganggukkan kepalanya. “Aku kapok, tidak akan mengulanginya lagi. Yang jelas aku rugi tidak ikut nonton dan mendapat tas beserta alat-alat sekolah.”
Dani tertawa. “Jelas itu kerugian yang sangat besar.”
Agga meringis mendengar ledekan Dani. “Sekarang kita masuk kelas, yuk! Siapa tahu nanti ada guru yang tidak masuk lagi. Terus akan ada kegiatan asyik lagi seperti kemarin.”
“Uh, maunyaaa .... Hahaha ....”
***

Dimuat di MAJALAH BERANI, 6 Juni 2012, No. 11/1

[Tulisan Saya] Abang Bajaj Misterius

Cerita Bersambung

ABANG BAJAJ MISTERIUS
Shinta Handini

#Bagian 1

“Naik bajaj saja, Kak … biar cepat,” kata Dena memelas. “Aku hari ini ada ulangan Matematika. Kalau telat, Bu Neni bisa enggak ngasih aku ikut ulangan.”
“Iya, deh!” Rida menerima usul adiknya.
Setelah beberapa saat menunggu, ada bajaj yang mendekat.
“Itu ada bajaj!” seru Dena.
Rida menyetop bajaj. Terjadi tawar-menawar. Kata sepakat didapat. Rida dan Dena pun naik.
Semenjak awal Dena memperhatikan si sopir bajaj. Ada yang menarik perhatiannya.
“Psst … Kak,” Dena mendekatkan mulutnya ke telinga Rida. “Sopir bajajnya seram, ya?” tanyanya dengan suara berbisik.
“Ah, kamu ada-ada saja.” Rida berusaha menepis rasa takut adiknya.
“Coba kakak perhatikan, deh!” Dena masih berkata dengan suara berbisik. “Mukanya tertutup topi. Sepertinya dia sengaja berbuat itu. Pas tawar-menawar ongkos bajaj, dia berkata sambil menunduk. Aneh, kan?”
“Hm, mungkin dia malu,” Rida menenangkan adiknya.
“Sepertinya bukan, Aku pikir ada sesuatu yang disembunyikan, atau …” mata Dena tiba-tiba membelalak. “Jangan-jangan dia penjahat yang sedang menyamar.”
Dada Rida tiba-tiba berdetak kencang. Ucapan adiknya membuatnya menjadi takut juga. Tapi Rida tidak mau terlihat oleh Dena.
“Kamu jangan berpikiran buruk seperti itu. Tidak baik!” ujar Rida sambil melihat ke arah jalan. “Nah, kita hampir sampai sekolah.”
Bajaj berhenti di depan gerbang sekolah. Rida dan Dena turun.
“Ini Bang, ongkosnya,” Rida memberikan selembar uang sepuluh ribuan. “Terima kasih, ya.”
Abang bajaj menerima ongkos dari tangan Rida, tanpa berkata sepatah kata pun. Setelah itu dia berlalu dengan mengendarai bajajnya.
***


#Bagian 2

“Kak Rida lihat, kan? Mengucapkan terima kasih saja tidak,” sungut Dena.
“Sudahlah, abang bajajnya mungkin sedang terburu-buru. Yuk, masuk kelas!”
“Sebentar, Kak!” seru Dena. “Mapku mana?”
“Map apa?” tanya Rida.
“Map yang tadi kubawa, yang berisi tugas-tugas Matematika. Kalau tidak dibawa, aku tidak bisa ikut ulangan,” jawab Dena. “Jangan-jangan ….”
“Jangan-jangan apa? Kakak sepertinya tidak melihatmu membawa map.”
“Aku bawa, Kak … dan uang SPP yang tadi diberikan Ibu untuk dibayarkan, kuselipkan di dalam map itu.” Dena sudah hampir menangis.
“Ya,ampun. Kamu ceroboh sekali, Dena! Coba ingat-ingat lagi, di mana kamu terakhir kali meletakkannya. Apa mungkin ketinggalan di rumah?”
“Aku yakin sudah membawanya, Kak … dan aku yakin mapku ketinggalan di bajaj tadi.” Kali ini Dena benar-benar menangis.
“Sudahlah,” Rida menenangkan adiknya. “Nanti kamu bicarakan sama Bu Neni, kejadian yang sebenarnya. Semoga kamu diberi kesempatan untuk menyerahkan tugas-tugas Matematika, besok. Sementara itu kamu boleh tetap ikut ulangan.”
“Tapi … uang SPPnya?” Dena masih terisak.
“Hm, semoga abang bajaj yang mengantarkan kita tadi berbaik hati mau mengembalikannya,” hibur Rida.
“Mana mungkin, Kak? Pasti abang bajaj itu senang karena telah menemukan uang di mapku.”
“Hush, kamu tidak boleh berprasangka buruk seperti itu, Dena!”
“Abang bajaj tadi misterius sekali, Kak … Dia selalu menyembunyikan wajahnya. Dia juga sama sekali tidak ramah pada kita. Itu kenyataan kan?”
“Ya sudah, kalau begitu kamu harus bilang sama ibu. Paling-paling kamu akan dinasihati dulu sebelum kamu diberikan uang penggantinya.”
“Abang bajaj itu pasti penjahat yang sedang menyamar.” Dena masih kesal. Isakannya masih sesekali terdengar.
“Jangan menuduh! Kamu yang salah.” Rida tidak suka dengan sikap adiknya. “Sekarang kita masuk ke kelas. Nanti terlambat.”
Dena menurut. Dia mengikuti kakaknya. Di persimpangan dekat ruang guru, mereka berpisah menuju kelas masing.masing.
***


#Bagian 3

“Bagaimana tadi dengan Bu Neni?” tanya Rida, begitu melihat adiknya keluar dari kelas.
“Aku boleh ikut ulangan. Aku juga diberikan kesempatan untuk menyerahkan tugas-tugas Matematika, besok,” jawab Dena.
“Syukurlah,” ucap Rida. “Yuk, pulang! Sekarang kita naik angkot. Lebih irit.”
Dena menuruti kakaknya. Mereka berdua beriringan menuju halte di seberang sekolah untuk menunggu angkot.
Tiba-tiba …. Ciiit … sebuah bajaj berhenti di hadapan Rida dan Dena.
“Kak Rida, itu kan bajaj kita tadi pagi!” Dena menjerit tertahan. Rida terkejut.
“Ini punya kalian. Tadi pagi tertinggal di bajaj saya.” Sopir bajaj itu menyerahkan sebuah map kepada Rida.
“Eh, terima kasih, Bang …,” ucap Rida sambil melirik ke arah adiknya.
Dena tertuduk malu. Dia merasa bersalah sudah berprasangka buruk terhadap abang bajaj tadi pagi.
“Saya pikir map itu sangat penting. Saya sama sekali tidak membukanya,” kata abang bajaj. Kali ini mukanya diangkat, tidak tertunduk seperti tadi pagi.
Rida dan Dena kembali terkejut. Wajah abang bajaj itu terlihat belang. Sebagian besar kulitnya berwarna putih seperti bekas luka bakar.
“Mukanya kenapa, Bang?” tanya Rida penasaran.
“Setahun yang lalu, saya kecelakaan, Neng. Muka saya terbakar,” jelas abang bajaj. “Saya selalu menutupinya dengan topi. Saya khawatir penumpang saya menjadi ketakutan kalau melihat muka saya seperti ini.”
Dena menggigit bibir bawahnya, dia merasa sangat bersalah. “Maafkan saya, Bang. Saya tadi pagi mengira abang itu penjahat,” ucapnya dengan penuh sesal.
Abang bajaj tertawa. “Tidak apa-apa, Neng,” jawabnya. “Saya permisi dulu.”
“Terima kasih ya, Bang,” ucap Dena lagi.
Abang bajaj itu mengangguk sambil tersenyum. Dia pun pergi dengan mengendarai bajajnya.
“Abang Bajaj itu baik ya, Kak.” Dena masih memandangi kepergiannya.
“Katanya misterius … katanya penjahat ….” Rida menggoda adiknya. Dena tersipu malu. “Bersikap hati-hati boleh, tapi jangan sampai menuduh.” nasihat Rida. Matanya kembali tertuju ke arah jalan. “Eh itu angkotnya. Naik, yuk!”
Rida dan Dena masuk ke dalam angkot. Senyum bahagia tersungging di bibir mereka.
***


Dimuat di KORAN BERANI
24-29 januari 2012 / Tahun VI / No. 3
30 Januari - 5 Februari 2012 / Tahun VI / No. 4
6-12 Februari 2012 / Tahun VI / No. 5