Rabu, 26 September 2012

[Tulisan Saya] Kecanduan Game Boy

Cerita Pendek


Kecanduan Game Boy
Shinta Handini

“Agga ... sudah hampir jam enam. Nanti kamu terlambat ke sekolah!” Terdengar suara Mama dari arah dapur.
Di kamarnya, Agga masih saja bergelung di bawah selimut.
“Aggaaa ...!” Kali ini mama memanggil lebih keras lagi. Tetap tidak ada sahutan. Mama kelihatan tidak sabar dan segera menuju kamar Agga.
Agga mendengar suara langkah kaki mama yang mendekati kamarnya. Terdengar suara pintu dibuka. Agga semakin merapatkan selimutnya.
“Kamu ini, mau sekolah enggak, sih?” tanya mama gemas. “Ayo, bangun!” Mama membuka selimut Agga dan memaksanya untuk segera bangkit dari tempat tidur.
Dengan malas-malasan Agga bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Kepalanya disandarkan ke dinding. “Agga hari ini enggak sekolah ya, Ma.”
“Lho, kenapa? Kamu sakit?” Mama meraih kepala Agga dan memegang dahinya. “Enggak panas. Terus, kenapa kamu enggak mau ke sekolah?”
“Tenggorokan Agga sakit, Ma,” jawab Agga. “Ini untuk menelan air ludah saja sakit.” Agga memperlihatkan mimik kesakitan saat berusaha menelan air ludah.
“Ya sudah, kamu istirahat saja di rumah. Nanti mama akan telpon Bu Dewi, wali kelas kamu, izin tidak masuk karena sakit.”
Agga menurut dan kembali berbaring di tempat tidur. Mama menyelimuti Agga. Setelah itu mama berjalan ke luar kamar. Pintu kamar ditutup.
“Yes!” Agga berseru kecil. Diambilnya sesuatu dari bawah bantalnya. “Asik, seharian aku bisa main game boy.” Agga mulai menyalakan mainan elektronik yang didapatnya dari tante Hana, adik mama Agga yang tinggal di luar negeri.
“Agga!” Tiba-tiba saja kepala mama sudah menyembul dari balik pintu.
Agga terkejut. Cepat-cepat disembunyikannya game boy ke bawah bantal. “Iya, Ma,” jawab Agga gugup.
“Biar lekas sembuh, mama buatkan bubur ayam, ya?”
“Nasi aja, deh, Ma,” tawar Agga. Sudah terbayang di kepala Agga semangkuk bubur panas yang tidak disukainya. Menurut Agga, bubur itu makanan bayi, sama sekali tidak enak.
“Kalau untuk menelan air ludah saja sakit, apalagi harus makan nasi?” tanya Mama. “Sudah, pokoknya kamu istirahat dulu. Mama buatkan buburnya, sebentar.” Keputusan mama sudah bulat, Agga harus makan bubur. Mama kemudian pergi ke dapur.
“Ya sudah, pasrah saja, deh! Yang penting hari ini aku bisa main game boy seharian. Enggak perlu ulangan matematika.” Agga kembali mengambil game boy dari bawah bantal. Kali ini dia tidak peduli harus makan bubur yang sama sekali tidak disukainya.
***

“Kamu kemarin kemana, Agga? Kok, enggak masuk sekolah?” tanya Dani saat bertemu di pintu gerbang sekolah. Mereka jalan beriringan menuju kelas.
“Eh ... oh ... aku sakit,” jawab Agga gugup.
“Wah, sayang sekali kamu tidak masuk. Kemarin kita ada kegiatan yang asik, loh!”
“Kegiatan apa?” tanya Agga penasaran. Langkahnya terhenti. “Bukannya kemarin harusnya ulangan matematika?”
“Enggak jadi! Kemarin Pak Iwan enggak masuk, jadi kita enggak jadi ulangan,” jelas Dani. Langkahnya ikut terhenti. “Terus ada kunjungan mendadak dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang mengajak kita untuk menonton film.”
“Hah? Jadi, enggak belajar?” tanya Agga lagi.
“Ya, enggaklah ... Kita enggak cuma diajak nonton film, tapi juga dikasih souvenir tas dan alat-alat sekolah. Ini seperti yang kupakai.” Dani menunjukkan tas punggungnya.
“Bagus banget!” puji Agga. “Coba aku masuk sekolah, kemarin. Pasti aku juga dapat tas kayak punya kamu. Nyesel aku sudah bolos sekolah.”
“Loh, tadi katanya kamu sakit? Kok, sekarang kamu bilang bolos sekolah?”
“Ups ...,” Agga keceplosan.
“Berarti kamu bohong! Kamu bolos sekolah, kan?” kejar Dani
Agga jadi gelisah ditanya seperti itu. “Iya, aku sudah bohong. Kemarin aku tidak sakit, tapi bolos sekolah.”
“Kenapa kamu bohong? tanya Dani.
“Aku masih penasaran sama game boy milikku,” Agga berkata lirih, merasa bersalah. “Aku ingin memenangkan permainannya.“
“Aduh, Agga ... Kamu itu sudah kecanduan main game boy. Lihat akibatnya!” kata Hendi. “Kamu jadi bolos sekolah dan membohongi semua orang.”
“Iya ... Aku minta maaf.” Agga menunduk.
“Kamu harus minta maaf kepada mamamu dan Pak Iwan. Merekalah yang kamu bohongi,” kata Dani. “Lagipula, dengan membolos, kamu jadi banyak merugi, terutama rugi waktu dan rugi tidak mendapat ilmu baru.”
“Iya, kamu benar, Dani!”
“Selain itu, saat kamu membolos kemarin, kamu tetap harus mengikuti ulangan matematika, kan? Tidak karena membolos, lantas tidak jadi ulangan?"
Agga menganggukkan kepalanya. “Aku kapok, tidak akan mengulanginya lagi. Yang jelas aku rugi tidak ikut nonton dan mendapat tas beserta alat-alat sekolah.”
Dani tertawa. “Jelas itu kerugian yang sangat besar.”
Agga meringis mendengar ledekan Dani. “Sekarang kita masuk kelas, yuk! Siapa tahu nanti ada guru yang tidak masuk lagi. Terus akan ada kegiatan asyik lagi seperti kemarin.”
“Uh, maunyaaa .... Hahaha ....”
***

Dimuat di MAJALAH BERANI, 6 Juni 2012, No. 11/1

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

0 komentar :

Poskan Komentar