Rabu, 26 September 2012

[Tulisan Saya] Kue Betawi Jadul

Cerita Pendek


KUE BETAWI JADUL
Shinta Handini

Lani senang sekali. Sekarang dia berada di daerah Kemayoran, Jakarta Utara. Bersama kedua orangtuanya, sore ini dia mengunjungi Pekan Raya Jakarta untuk pertama kali.
Pekan Raya Jakarta berlangsung selama sebulan. Diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kota Jakarta yang jatuh setiap tanggal 22 Juni.
Kata teman-teman yang sudah berkunjung, banyak sekali kios yang menjual barang-barang buatan Indonesia. Yang pasti, katanya banyak dijual makanan khas Jakarta. Wuih, membayangkannya saja Lani sudah menelan air liur. Pasti enak-enak, karena Lani belum pernah mencicipinya.
Setelah membeli tiket, Lani dan kedua orangtuanya pun masuk. Lani takjub melihat ke sekelilingnya. Banyak sekali orang yang berkunjung. Lampu warna-warni menerangi seluruh area. Seperti pasar malam. Meriah!
“Kita ke sana dulu, yuk! Ke kios perabotan rumah tangga. Siapa tahu ada yang bagus dan murah,” ajak Ibu.
“Boleh! Setelah itu ke kios barang-barang elektronik ya ... Ayah pingin melihat teknologi yang terbaru.”
Lani mengikuti saja. Diperhatikannya setiap kios yang mereka lewati dan singgahi. Ada kios yang menjual kain batik, kerajinan dari perak, cenderamata dari berbagai daerah di Indonesia, hingga peralatan teknologi yang canggih. Sudah pasti ayah dan ibu membeli barang-barang yang mereka incar. Mumpung murah katanya.
Mengitari area Pekan Raya Jakarta yang luas ternyata capek juga.
“Ayah ... Ibu ... Istirahat dulu, yuk! Haus, nih!” Lani berkata seraya mengelus-elus lehernya.
“Eh, Ibu juga haus.”
“Kita ke kios makanan saja. Selain minuman, banyak makanan khas Betawi,” ajak Ayah.
“Betawi?” tanya Lani heran.
“Iya, Betawi itu nama lain dari Jakarta. Orang-orang jaman dulu menyebut Jakarta itu Betawi,” jelas Ibu.
“Oh, begitu!” Lani mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Nah, ada kerak telur di sana!” tunjuk Ayah. “Sudah lama ayah tidak memakannya. Kalau tidak ada acara seperti ini, jarang sekali ada yang jual.”
“Ibu mau makan kue-kue khas Betawi juga. Itu disana banyak dijual.”
“Kalau aku, yang jelas mau minum dulu! Haus ...,” pinta Lani.
“Iya, kita beli minum dulu,” kata Ibu.
Setelah minum, Lani mengikuti ayah membeli kerak telur. Sementara ibu membeli kue-kue khas Betawi lainnya.
Lani memperhatikan penjual kerak telur membuat pesanan ayahnya. Bahan utamanya telur, beras ketan putih, dan ebi. Kemudian diberi bumbu dan dimasak di atas penggorengan. Kompornya lucu, terbuat dari tanah liat dengan arang yang dibakar didalamnya. Setelah jadi, ia pun mencicipinya.
“Enak!” seru Lani.
“Coba cicipi juga kue-kue ini,” kata Ibu yang datang dengan berbagai jenis kue khas Betawi di tangannya.
Lani mengambil kue berbentuk seperti bunga.
“Itu namanya kue kembang goyang,” jelas Ibu. “Kalau yang ini kue rangi. Terbuat dari tepung beras. Nah, kalau satunya lagi namanya kue akar kelapa. Namanya sesuai dengan bentuknya.” Ibu membongkar hasil belanjaannya.
Lani mencicipi satu per satu.
“Wah, enak semuanya ... Aku suka!” kata Lani sambil mengunyah. “Lain kali kita beli lagi ya, Bu.”
“Sepertinya harus menunggu tahun depan, ketika Pekan Raya Jakarta diselenggarakan lagi. Ini kan kue-kue langka,” sela Ayah.
“Langka? Kenapa, Yah?“ tanya Lani.
“Ini kue-kue Betawi jaman dahulu. Dibuat kalau ada acara-acara seperti acara pernikahan dan sunatan yang memakai adat Betawi.”
“Yaaa ... padahal aku terlanjur suka sama kue-kue Betawi jadul ini,” keluh Lani.
“Jadul?” ganti Ayah yang tidak mengerti.
“Jadul itu jaman dahulu,” jelas Lani sambil tertawa.
Ayah dan Ibu pun turut tertawa.
“Tenang ... Nanti kita cari. Di pasar-pasar tradisional terkadang masih ada yang jual. Walau tidak semuanya,” kata Ibu. “Bisa juga nanti kita coba membuatnya sendiri.”
“Asyik .... Benar ya, Bu?”
Ibu tersenyum seraya mengangguk.
“Sekarang kita pulang, yuk!” ajak Ayah. “Sudah hampir tengah malam.”
“Iya, aku juga sudah mengantuk,” Lani terlihat sesekali menguap.
Mereka pun pulang dengan membawa banyak cerita dan buah tangan. Diantaranya kue-kue Betawi jadul, kue-kue yang enak dan segera menjadi favorit Lani.
***

Dimuat di MAJALAH BERANI, 20 Juni 2012, No. 12/1

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

0 komentar :

Poskan Komentar